Here is an excerpt of a discussion that was going on in the MD yahoogroups some time ago. It started by a question of an MD in Yogyakarta, responded by Eko, the reigning Cosmopolitan FM Jakarta MD, and finally responded again by me. Interestingly, out of nowhere and in such a close time lag, it co-incidentally crosses the topic exactly which i just discussed in blog previously - about music director. So without further ado, here it goes…
— Wenan Prakosa <wenan_prakosa@yahoo.com.sg> wrote:
>
> Hi Guys. mungkin ada beberapa MD Senior yang bisa
> berbagi / sharing
> mengenai berbagai macam pola penataan radio.
>
> Jika kita menjadi MD di jaman dulu (mungkin) kita
> akan menggunakan pola
> "selera" yang artinya. pada area waktu tertentu,
> kita akan memilih
> format lagu-lagu tertentu pula. Hal ini mungkin bagi
> kita selaku MD
> sangat menguntungkan. karena kita bisa menerapkan
> apa yang ada di benak
> kita. Tetapi (mungkin) ini bukan system yang baik
> bagi sebuah radio,
> bayangkanlah. (semisal) kita tidak lagi menjadi MD
> pada radio tersebut
> maka format musik (bisa jadi) berubah total.
> mengikuti selera MD yang
> baru, dan ini juga merupakan sebuah bentuk
> "gambling" bagi dunia radio
> (dari segi bisnis) dengan resiko yang cukup besar.
>
> Kemudian muncul pola pengaturan berdasarkan BPM
> (Beat Per Minute),
> mungkin sedikit bisa membantu seh. tapi tetep aja.
> ada beberapa lagu
> yang ber bpm tinggi namun bergenre beda.. Sehingga
> sedikit menyulitkan
> pemutaran lagu.
>
> Barangkali ada beberapa MD Senior yang bersedia
> berbagi melalui forum
> ini
thq..
>
>
> Muhammad Nordin Salam (DJ WENAN)
> MD Ur Channel 106.9 UTY FM Jogja
Eko Cosmopolitan FM responded…
Eko Yudiyantho <batu_karas@yahoo.com> wrote:
MD’ers…hehehe
Gabung ahhh…
Soal ’selera pribadi’, gue pikir sihhh wajar
banget…Secara yg namanya MD di-hire sebagai seorang
spesialis…Kaya dokter aja…ada dokter umum…ada
dokter spesialis. Malah kadang2 jadi perlu banget buat
CHR radio…Mrk jadi ujung tombak buat jadiin sebuah
lagu layak buat jadi trend setter apa enggak…
Cuman kalo menurut gue, ada beberapa batesan yg juga
gak bisa dengan begitu mudah dilanggar oleh
MD…Format radio itu sendiri…ya gak??? Gak
selamanya seorang MD yg idealis berguna buat sebuah
radio…Tapi bukan juga seorang MD yg ‘maen aman’
doang…wahhh tergantung radionya juga…
Soal format yg berubah ketika seorang MD digantiin ama
MD lainnya…itu juga relatif…Kan MD juga gak
sendirian…ada pola2 tertentu yg emang udah jadi
patern dan disusun bersama dg petinggi2 lainnya di
station…
Udah banyak juga software yg membantu mempertahankan
format musik sebuah radio…Jadi kalo ada perubahan
MD…gak bakalan merubah banyak format
musiknya…asikkk
Perubahan sihhh pasti ada…tapi dengan kemajuan
teknologi…gak bakalan terlalu signifikan…kecuali
radio yg bersangkutan emang jelas2 mau merubah
format…
Soal BPM…kadang membantu…tapi kadang juga
menjebak…Gak semua MD fasih soal BPM, ya gak???
Balik ke orangnya lagi…karena emang itu bukan tugas
seorang MD…hehehe…Percaya ama kuping
dech…banyakin jam terbang sama segala jenis genre
musik…
Any idea…MD senior!!! Ditanyain tuhhh
Semoga membantu…
fundamental life>>>MuSiC<<<
Eko ‘exo"
MD of 90.4 Cosmopolitan FM
then me….
Halo wenan dan eko apa kabar? gw ngeliat diskusi ini juga pengen menawarkan pendapat gw. Oya buat wenan, perkenalkan nama gw Rinaldi Triasepta, gw mantan MD Hardrock FM Bandung tahun 2003-2004. Meskipun cuma setaun tapi gw ngerasa gw banyak banget belajar disana, dan masalah yang kalo elo sebut itu masalah klasik MD udah gw rasain sejak lama banget. Yang menarik banget, karena kebetulan gw suka nulis di blog gw (hehehe jadi promosi gini), kira2 beberapa hari yang lalu, baru aja gw ngobrol2 ama temen2 gw soal per-MD-an dan membuat gw pengen nulis mengenai MD yang isinya menyikapi persis hal yang sama dengan yang elo sebut "masalah klasik". what a coincidence kan?? =D. kl ga percaya ini alamat blog gw: http://gotahouseyfeelinonit.blogs.friendster.com/hey_you_yeah_you_come_int/
Jadi ini kesimpulan gw:
untuk memahami scope kerja seorang MD, adalah udah jadi terutama buat kita untuk ngeliat apa sih definisi si MD itu sendiri. bukan untuk berusaha berteknikal ria atau berusaha membuat pendefinisian untuk maksud umum, tp inilah versi gw mengenai apa itu MD. MD itu adalah seseorang yang mendapat tugas untuk meng-enforce (kamusnya gw ga ketemu yang tepat: menyelenggarakan, menjalankan, etc) nilai2 musik yang dipegang oleh institusi dimana dia bekerja. Tentu saja disini institusi itu adalah perusahaan radio dimana dia bekerja. Nilai2 musik ini layaknya seperti nilai2 yang kita kenal di kehidupan sosial namun bedanya adalah nilai2 ini berkaitan dengan genre, feel yang ingin dimunculkan, periode, tempo, dan sebagainya yang bisa mendefinisikan suatu jenis musik itu sendiri. Jadi bukannya nilai kemanusiaan misalnya, tapi lebih kepada misalnya chic, trend, funky, ato 60s flower power. Nah, tugas meng-enforce ini ternyata turned out menjadi tugas yang amat krusial. sang md seolah menjadi polisi dan hakim untuk musik di radio itu sendiri. Nah, kekuasaan yang begini besar apa artinya? artinya adalah sang MD harus memahami secara persis diluar kepala diluar badan kalo perlu seperti apa nilai musik yang dimainkan radionya. dia harus bisa menjelaskannya dan mengartikulasikannya kepada orang2 dengan jelas dan lebih jauh lagi menginterpretasinya dan mengaplikasikannya dalam playlist dan chart sehingga menciptakan diferensiasi khusus bagi radionya. (sedikit menyimpang cuma kita tau dalam bisnis, salah satu strategi kompetitif yang ultimate adalah diferensiasi, maksudnya semakin kita bisa mendiferensiasi produk kita (program radio yang kita siarkan) kepada orang, semakin besar chance kita untuk memenangi kompetisi dengan radio2 lain.) Nah, pengertian dan kejelasan yang luar biasa ini adalah tuntutan bagi MD dan itungannya adalah salah satu kompetensi bagi seorang MD profesional yang membedakannya dengan orang2 biasa. "Dia memahami musiknya radionya sendiri lebih dari orang2 lain". Makanya masa orientasi seorang MD menjadi sangat penting, karena di masa itu dia belajar mengenai musik yang ‘dianut’ radionya. Yang bisa lebih mengerti mengenai musik selain MD adalah, dan ini juga harus dimengerti, adalah sang Board/bosses/CEO dari radio itu sendiri (Board itu adalah dewan direksi radio itu sendiri). Nah jika MD itu polisi dan hakim, Board adalah yang membuat undang2nya.
Antara MD dan Board terjadi hubungan kontraktual, artinya MD meng-uphold undang2 yang udah dibuat ama Board, dan MD bertanggung jawab sama Board.
Nah setelah ini jelas. Baru kita masuk ke hakikat MD sebagai manusia. MD, gimanapun dia udah memiliki jobdesc yang jelas dan udah ditentukan (alias ‘undang2′ musik di suatu radio), dia tetep manusia, yang punya preferensi, punya tendensi, dan punya bias ke suatu arah tertentu. Nah dimana posisi preferensi, tendensi, dan bias ini dalam hubungan MD dan Board?? maafkan gw kalo menurut elo ini cukup radikal, tapi menurut gw idealnya adalah: tidak ada. Dalam praktikalitasnya, tentu ini tidak mungkin terjadi, seseorang takkan pernah bisa menghindari bias yang dimilikinya, in fact, inilah yang membuat dia ‘manusia’. Namun begitu, prosesnyalah yang lebih penting, bagaimana kita bisa mengeliminir penggunaan preferensi dan bias pribadi dalam konteks hubungan antara MD dan Board.
Meskipun tampak idealis (mungkin menggambarkan watak saya hehehe), namun pada kenyataannya, preferensi dan bias boleh digunakan namun pada saat yang tepat. pada saat yang tepat bias ini bisa menjadi suatu senjata yang ampuh dan ‘buas’, namun hanya pada saat yang tepat, seperti yang kita akan liat nanti.
Perlahan2 kita akan masuk kepada justifikasi perkataan gw mengapa dan pada saat kapan preferensi dan bias boleh digunakan. Pertama dinamika musik.
- Faktanya adalah menurut kategori yang gw buat sendiri, ini tentunya pendapat yang boleh diterima boleh tidak, ada dua macam radio berdasarkan ciri trend-followingnya, yang pertama radio trend-following/musically updated, yang kedua adalah radio yang tidak/cenderung tidak musically updated. Gw harap kategori ini mudah dicerna dan bisa diaplikasikan langsung kepada radio2 yang ada disekitar kita.
- Faktanya adalah undang2 musik atau policy musik yang sudah di dirancang oleh sebuah radio adalah bersifat statis. sementara, nah ini ironinya, musik itu sendiri, DINAMIS.
- Faktanya adalah bahasa, verbal ataupun tertulis, memiliki keterbatasan. Nah ini mengindikasikan adanya tuntutan akan suatu degree of penggunaan intuisi untuk pekerjaan2 tertentu. spesifiknya, pekerjaan2 yang berhubungan dengan seni.
Nah bagaimana ketiga2 fakta ini akan mempengaruhi aktivitas seorang MD. Begini,
Yang pertama, radio yang trend following. Radio yang musically updated, dibandingkan terhadap yang non musically updated, terekspos kepada suasana keambiguitasan yang lebih besar. Mengapa, karena wealth of music dan variasi musik yang dihadapi oleh radio yang musically updated jauh lebih besar daripada radio yang tidak trend-following. Variasi ini men-transcend batas2 aliran musik, batas2 bpm, pendeknya berbagai klasifikasi musik yang telah ada sebelomnya. Nah untuk radio semacam ini, kadar ambiguitas/kebingungan sang MD lebih besar daripada radio yang non trend-following, mengapa? karena muncul musik2 baru yang gabungan antara musik yang termasuk dalam music policy radio kita dan yang tidak, alias musik2 baru ini ada di perbatasan. Contohnya ketika di hardrock fm, betapa saya bingung untuk memasukkan ke playlist misalnya gangsta rap yang kini kian menjadi trend, padahal saya tau persis bahwa misalnya rap2 jaman dulu yang old school seperti fresh prince, run dmc, ato sugarhill gang amat cocok dengan policy music hard rock fm. Nah, radio2 yang musically updated menghadapi pertanyaan2 mengenai musik baru seperti ini setiap hari. Bayangkan misalnya kesulitan yang dihadapi MD, misalnya, Indika FM yang amat trend following misalnya dibandingkan kesulitan yang dihadapi MD Kis FM yang memiliki kerangka musik yang cukup fix(salam buat MD Indika dan MD Kis yang sangat saya kagumi dan hormati). Tentu saja saya memahami bahwa tantangan Kis FM adalah lain lagi, yaitu untuk mencari old time gems and treasures yang udah dilupakan orang, salut untuk KIS FM, radio legend jakarta =D.
Yang kedua adalah musik yang dinamik, dan policy music yang statis. Berapa kalikah kalo kita bisa hitung format musik/policy musik sebuah radio berubah sepanjang hidupnya? mungkin bisa dihitung dengan jari tangan kanan saja misalnya, namun berapa kalikan musik itu sendiri berevolusi, berasimilasi sepanjang hidupnya? sepanjang yang gw bisa inget, as far as im concern. karena emang pada hakikatnya musik itu dinamis, mengalami pencampuran, pensintesaan dari karya2 yang jadi panutan sebelumnya, in fact begini jugalah peradaban berkembang. bahkan boleh dikata jaman sekarang (dekade ini) berapa banyak sih musik yang benar2 baru, relatif terhadap genre2 sebelomnya. sedikit sekali, dan yang sedikit ini berhak untuk dapet hall of fame untuk dikategorikan jenis musik baru. contohnya dance-punk ala franz ferdinand adalah campuran dari original punk, yang bercampur dengan new wave 80′an, dan juga sekelumit ekspresivitas glam rock. atao deep house yang jadi langganan diputer di lounge2 jakarta, cuma variasi dari original house, dengan vokal chill out, ambience yang lebih mencolok, dan thumping bass yang lebih ringan. Nah tentunya ini mempengaruhi pekerjaan sang MD, yang setiap hari harus mengacu kepada format musiknya yang statis (yang juga dituliskan dalam bahasa yang statis seperti yang akan kita jelaskan berikutnya) untuk menghadapi banjiran aliran2 baru yang tidak bisa secara tepat dikategorikan apakah masuk atau tidak kedalam policy musik (aliasnya adalah tidak black or white, but more of gray).
Yang ketiga adalah berkaitan dengan masalah pendokumentasian sang policy musik itu sendiri yang menjadi hambatan ekstra untuk para MD, khususnya MD radio yang musically updated, untuk menyikapi banjirnya variasi2 musik2 baru. Im talking about the language..
Pernahkan elo membaca suatu review majalah mengenai lagu dan merasa tidak memahami apa yang dimaksud oleh penulisnya. Berbagai terminologi yang ada di musik seperti misalnya lounge, chill out, deep house, ambience, hip, cool, smooth (apa bedanya masing2?), dsbnya, yang seolah2 terus bertambah dan bertambah dan bertambah sepanjang tahun. Kebingungan kita dan fenomena pertambahan itu, mengindikasikan satu hal: bahasa itu tidak sempurna, mereka terus menerus dioptimalisasi untuk mendefinisikan lebih baik suatu fenomena. dan yang namanya optimalisasi itu tidak pernah sampai ke ideal, tapi sebuah proses untuk terus lebih baik dan lebih baik lagi mendeskripsikan suatu fenomena dalam realm bahasa. nah, ini sebenarnya merepotkan setiap orang yang harus berurusan dengan bahasa (kita semua, karena kita memakai bahasa), namun lebih spesifik lagi merepotkan orang2 yang harus bertolak pada bahasa untuk melakukan pekerjaannya, dan lebih parah lagi bagi pekerjaan2 ini berurusan dengan seni. salah satu dari orang2 ini adalah MD. MD harus berurusan dengan format musiknya sendiri yang dituliskan dalam bahasa yang mencoba menggambarkan suatu form of art. Pernahkan pertama kali membaca format musik elo, ada yang sulit untuk elo cerna? misalnya jika saja, seorang MD baru mtv on sky harus menjalankan policy musik dimana keterangannya adalah musik yang hip, cool, dan trendy. Bagaimanakah yang hip, cool, dan trendy?? makes you wonder..
Nah itu adalah sebuah contoh betapa bahasa itu bisa membingungkan,.. nah disinilah yang sebenarnya membuka peluang bagi MD untuk memanfaatkan "intuisi"nya, seperti juga kedua faktor sebelomnya, yaitu radio2 yang trend following/musically updated, dan statisnya musik policy, ketiga2nya membuka jalan bagi MD untuk menggunakan "intuisi"nya untuk menjalankan fungsinya selain policy musik. Mengapa "intuisi gw kasi tanda petik, karena intuisi yang gw maksud disini bukan intuisi berdasar dari preferensi, bias, ato kasarnya selera perutnya sendiri. Tapi intuisi yang berasal dari gw sebut FEK alias feel, experience & knowledge.
Ketika MD menghadapi situasi yang ambiguitas inilah, saatnya MD memake FEK-nya dia. Dan ini biasanya terjadi setiap hari untuk MD2 radio yang musically updated. Karena konsep musik di policy musik radio tidak cukup spesifik untuk menentukan apakah suatu aliran masuk atau tidak (terlalu umum dan maknanya vague - inget cool?), sang MD menggunakan feelnya, pengalamannya mengenai kejadian2 sebelomnya, dan pengetahuannya mengenai sejarah dan roots musik itu. dari situ, semestinya dia bisa melihat benang merah yang membatasi mana musik yang bisa masuk dan mana musik yang tidak boleh.
Nah disinilah kompetensi sang MD lainnya sebagai seorang professional, yaitu feel, experience dan knowledgenya dia. ini yang menjadi daya jual yang membedakan seorang MD dengan penikmat musik biasa. Makanya sejarah musik bagi MD itu penting, dan level tereskposnya dia sama berbagai aliran musik dari berbagai periode itu amat penting. pendek kata, untuk hal ini, MD itu yang pasti harus OPEN MINDED.
Nah yang harus diteguhkan disini adalah, dalam kasus2 ambiguitas sehari2, MD tidak boleh menggunakan seleranya sendiri, tetapi FEK-nya (maaf disini gw pake istilah gw berulang2, semoga dimaklumi). Ini adalah tugas dia sebagai profesional dan inilah "pride & joy"nya md yang membedakan seorang awam menjadi MD dan seorang MD yang menjadi MD.
Meskipun dalam teori mungkin ini terdengar mudah, namun pada prakteknya, ini sulit, mengapa? karena satu alasan fundamental. tingkat feel, experience, dan knowledge seorang MD sulit diukur. kasarnya, bagaimana kita tau bahwa seorang MD, yang misalnya pada saat ini sedang memilih untuk memasukkan seorang artis baru dengan aliran baru, sedang menggunakan preferensi/seleranya sendiri ato sedang menggunakan feelnya, experiencenya, dan knowledgenya? sulit untuk ditentukan bukan.. Untuk selanjutnya, gw rasa hal ini membutuhkan diskusi yang lebih panjang dan gw rasa ini tidak feasible mengingat imel ini udah terlalu panjang. Soal tadi mungkin bs diteruskan lain waktu.
nah buat wenan semoga ini bisa memberikan suatu alternatif jawaban buatlo bagaimana hubungan antara MD, musik radio, dan seleranya sendiri sebenarnya harus berjalan. oh ya satu lagi, ketika MD berpindah tangan, semestinya tidak boleh ada perubahan dalam sense musik radio yang dipegangnya. Perobahan sense musik keseluruhan, selain membingungkan pendengar (bahkan bisa mengecewakan), juga membuktikan ketiadaan kontrol yang jelas dari radio terhadap MD-nya dan menimbulkan sense radio ‘bekerja’ untuk MD, dan bukan MD bekerja untuk radio. Meskipun ini kerap tidak bisa dielakkan terutama untuk radio2 yang masih membangun, namun upaya2 harus dijalankan menuju ke arah sana, dimana keobjektifan Rules! dan subjektifitas harus kita tekan. Gw rasa jaman2 md yang memilih seleranya sendiri atau meminjam istilahlo "apa yang ada di benak md" itu udah lewat, atao setidaknya bukan yang berlaku di indonesia (diskusi tentang apa yang terjadi di amerika sebagai kiblat radio membutuhkan diskusi yang disini tidak relevan). itu bukan cara yang profesional dan tidak berorientasi pada profit.
gw rasa segitu dulu penjelasannya. gw harap kawan2 bisa memahfumkan penjelasan yang memang membutuhkan space yang tidak sedikit. semoga bisa memberikan manfaat. Salam untuk seluruh MD di indonesia, pesannya, lets make people have a better day! +D cheers.
senin pagi, berlin 22.08.05