Si Gembul Pembawa Air
Monday, November 27th, 2006 Di suatu kota kecil yang gersang bernama Anyer hiduplah seorang gadis pembawa air bernama Gembul. Gembul adalah seorang gadis yang sederhana, ceria dan baik hati. Tubuhnya yang gembul itu juga membuat orang2 tambah suka dan sayang kepadanya. Kadang2 orang2 suka menggoda gembul, tapi bukan karena mereka sebal dengan gembul, malah sebaliknya karena mereka pikir gembul itu lucu dengan postur dan tingkahnya yang seperti itu.
Gembul suka sekali dengan pekerjaannya sebagai pembawa air. Setiap hari dia membawa sebakul penuh air berkeliling kota membagi2kan kepada yang membutuhkannya.
Meskipun berat, tapi gembul tidak pernah mengeluh. Sepertinya bakul air yang digendong di punggung belakangnya itu untuknya tidak ada beratnya. Sebenarnya Gembul pernah mengeluh satu dua kali, menanyakan mengapa bakul air yang dibawanya ukurannya besar sekali dibandingkan pembawa2 air yang lain, tapi hal ini tidak pernah dia utarakan kepada orang2 lain, apalagi kepada orang2 yang dia bagikan airnya, hanya kepada sahabat2 dan sanak keluarga terdekatnya saja. Kebanyakan waktu pertanyaan2 itu dia pendam sendiri saja, walaupun jawabannya hingga sekarang dia masih tetap tidak tahu.
Pekerjaan Gembul sebenarnya sangat menjanjikan. Gembul adalah pembagi2 air di sebuah kota yang gersang. Sayangnya ada satu masalah yang tidak gembul bayangkan sebelumnya. Yaitu orang2 di kota yang gersang itu sudah sedemikian terbiasanya dengan kegersangan sehingga mereka sudah terbiasa dengan sedikit air. Sebenarnya mereka butuh banyak air, namun sepertinya mereka sudah lupa pada hal itu. Kesibukan2 mereka dengan pekerjaannya dan karirnya sudah demikian besar sampai2 mereka lupa betapa butuhnya mereka pada air. Gembul sering merasa sedih jika mendapat penolakan2 dari orang2 yang menolak menerima air darinya. Buatnya itulah satu2nya yang paling penting yang bisa ia bagikan namun alangkah pedihnya dia merasa ketika dia menyadari bahwa apa yang penting baginya tidak selalu penting bagi orang2 yang ingin ia bagikan airnya.
Gembul akhir2 ini sering merasa sedih. Ia merasa orang2 yang tinggal kota yang ditinggalinya ini semakin asing buatnya. Orang2 yang dia temui dan ingin dia bagikan airnya semakin sering menolak. Ia merasa ingin sekali membagikan air itu namun tidak ada yang mau menerimanya. Orang2 semakin sibuk dengan pekerjaan2 yang digelutinya dan semakin lupa akan butuhnya mereka dengan air. Gembul pun kian sedih.
Disudut kota yang lain ada seorang anak laki2 bernama Roman. Roman adalah anak yang suka mengembara dan suka berpindah2 kota. Kali ini kota yang dia hinggapi adalah Anyer.
Roman sebenarnya menyukai kota Anyer namun seperti Gembul dia juga kecewa dengan orang2 di kota itu yang sering bertahan dengan sedikit air hanya karena sibuknya mereka dengan pekerjaannya.
Roman telah sering berpindah2 kota. Perjalanannya dari kota ke kota tersebut memberinya banyak pengalaman. Roman juga kebetulan anak yang suka berpikir dan bertanya. Bakat bertanya dan pengalaman2nya itu memberinya banyak kesimpulan2 hidup yang sangat berharga baginya. Meskipun belom tentu semuanya benar namun ia merasa hidupnya menjadi jauh lebih bermakna dengan kesimpulannya2 itu.
Pada suatu hari Roman bertemu Gembul yang sedang melamun di sebuah halte busway di kota itu. Awalnya Roman tidak ingin mengganggu Gembul yang sedang termenung sendirian, namun bakul air yang dibawa2 si Gembul pertanda si Gembul adalah gadis pembawa air membuat Roman semakin mengukuhkan tekadnya untuk bertanya kepadanya.
"Sore2 begini, masih banyak airnya mbak?" tanya Roman
"Iya mas, nggak banyak yang mau air lagi sekarang ini.." jawab Gembul dengan nada rendah
"Saya mau" sambil mengacungkan jari telunjuknya di dekat wajah Gembul dan tersenyum kepada Gembul.
Gembul tersenyum "oh boleh mas, silakan.." dan Gembul pun mengambil sebuah gelas dari samping bakulnya, menuang sesendok air ke dalam gelas tersebut, dan menawarkannya kepada Roman.
Roman menyambut gelas tersebut, melirik air didalamnya, sejenak menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu menenggak isinya sampai habis. Roman tersenyum puas, lalu memandang Gembul yang tidak lupa membalas senyumnya. Dalam hati Gembul sangat bahagia ada orang yang mau menerima airnya tanpa sungkan2.
"Perkenalkan mbak, nama saya Roman. Saya tidak tinggal di kota ini, cuma mampir saja. Ingin berjalan2 sebenarnya. Kira2 berkenan nggak mbak menemani saya berjalan2, mungkin sebentar saja?" Roman kemudian bertanya.
"Hmm mau jalan2 kemana mas? Saya mesti membawa bakul air ini jadi agak berat kalo harus berjalan2 jauh" jawab Gembul.
"Ga usah jauh2 kok mbak, sekitar sini saja biar saya bisa melihat2 kota" jawab Roman pengertian.
Gembul tersenyum setuju. Tak lama mereka berdua keluar dari halte dan berjalan menyusuri trotoar perkotaan disamping gedung2 tingginya.
"Oh ya saya belum tau nama mbak siapa?" Roman bertanya
"Nama saya Gembul. Gembul saja." jawab Gembul.
Roman tersenyum mendengar namanya. Membayangkan apa jadinya jika si Gembul diet misalnya. Kemudian Roman lanjut bertanya.
"..mengapa masih jualan air mbak? Kan orang2 sini sepengetahuan saya tidak terlalu butuh air lagi.." korek Roman
"saya punya banyak air mas. Entah darimana, bakul air saya ini sepertinya tidak pernah kosong setiap hari. Setiap saya bangun pagi, bakul saya ini sudah terisi lagi dengan air. Besoknya begitu lagi dan begitu lagi. Saya tidak ingat kapan bakul ini tidak terisi penuh dengan air di pagi hari. Saya juga entah kenapa sepertinya tidak bisa tidak membagi air ini mas. Saya senang membagi2 air. Yah seperti inilah saya adanya mas." jelas Gembul dengan riang dan rendah hati.
Roman mendengarkan seluruh penjelasan Gembul dengan seksama lalu mengangguk memberi tanda ia mengerti. Roman berpikir betapa menariknya gadis bernama Gembul ini, yang punya kelebihan bakul airnya yang tak pernah kering dan kesenangannya membagi2 air kepada orang2 di kota tersebut. Betapa langkanya!
Sebelum ke kota yang gersang ini, Roman telah mengunjungi kota2 yang lain dan berkesempatan melihat berbagai macam orang2 pembawa air. Dari semua pembawa2 air yang pernah ia lihat, tidak pernah ia lihat bakul yang besarnya sebesar yang Gembul bawa sekarang. Yang bisa mengalahkan ukuran bakul Gembul itu hanyalah bakul milik orangtua2, yang mereka pakai untuk menyimpan air dan menjaga kebutuhan air keluarga mereka. Roman terkesima melihat ukuran bakul air Gembul. Seolah2 dengan ukuran bakul seperti demikian Gembul sudah cocok menjadi seorang ibu.
Roman selalu tertarik memperhatikan orang2 pembawa air di berbagai kota2 yang ia lewati. Bukan hanya pada pekerjaannya yang sederhana, namun karena bagaimana orang2 ini telah membuat orang2 disekitarnya merasa lega, segar dan bahagia kembali. Suatu pekerjaan yang Roman pikir adalah yang paling mulia dari segala macam pekerjaan yang ada di dunia ini. Apalagi yang lebih penting selain membuat orang lain bahagia pikir Roman.
Ada pembawa2 air yang memiliki bakul yang besar, ada yang kecil, dan ada yang berada ditengah2. Dimana pun mereka berada orang2 selalu berkerumun disekeliling mereka. Seolah2 mereka tidak pernah merasa puas akan kehadiran sementara sang pembawa2 air ini. Seperti lentera dan binatang serangga, masyarakat selalu datang menuju pembawa2 air. Mereka selalu diharapkan dan dinantikan kehadirannya. Begitupun pula di kota2 yang orang2nya sudah tidak terlalu perduli lagi dengan sang pembawa air, pasti ada orang2 yang lebih jeli dan lebih seksama yang kembali menyadari betapa pentingnya si pembawa2 air ini. Mereka pun akan menghartakan pembawa2 air ini, meskipun tetangga2 mereka tidak lagi memperdulikan mereka.
Di sore ini, Roman termenung kembali. Ingatannya terpaku pada pertemuannya dengan Gembul kemarin. Ia mencoba mengingat2 lagi, pernahkah ia mendapati satupun pembawa2 air yang pernah ia temukan sepanjang hidupnya mengisi bakul air mereka? Jawabannya tidak. Sebenarnya siapa pembawa2 air ini tanya Roman.
Di buku hariannya, Roman mencatat: "hari ini aku telah menemukan rahasia segalanya. Bahwa air yang dibagi2kannya itu adalah cinta, dan sang gadis pembawa air itu adalah gadis yang punya cinta yang besar dan banyak, yang tiada habis2nya dan selalu penuh kembali di hari selanjutnnya. Dia adalah sumur dari cinta, yang mengolengkan keseimbangan2 dunia sehingga dunia bergerak. Dunia perlu dirinya untuk memberi cintanya, dan dia perlu dunia untuk menerima cintanya. Gembul bukanlah orang biasa. Dia dikirim dengan kelebihan luar biasa. Kelebihan cinta. Setiap orang yang disentuhnya akan merasakan cintanya, walaupun mereka merasa tidak perlu atau tidak perduli karena pekerjaan mereka lebih penting misalnya. Namun nanti pada saatnya, mereka akan menyadari sang sumber2 cinta ini, dan menyadari arti pentingnya mereka. Dan menyadari bahwa pekerjaan apapun, mimpi2 keduniawian apapun tidak esensial dibanding dengan cinta. Walau kota yang gersang merasa tidak membutuhkan cinta, namun mereka sebenarnya menutup mata dan hati. Dunia semakin gelap dan pembawa2 air adalah lentera yang membawa kehangatan pada dunia."
Roman merasa amat bersyukur bisa berkenalan dan tersentuh oleh seorang pembawa air ini. Roman berjanji akan selalu menemani si gadis pembawa air yang selalu kesepian di kota yang gersang ini. Itu janji pada dan demi dirinya dan dunianya. Karena Roman tahu tanpa si gadis yang ceria ini, akan jauh lebih dingin dan sepi lagi dunianya.
inspired by si adek