Archive for December, 2006

Bedah lagu: The One - Malik n d’essentials

Friday, December 22nd, 2006

Mengapa Malik n D’Essentials hanyalah salah satu dari sekian banyak reinkarnasi baru dari aliran acid jazz and contemporary r&b?

     Mendengar alunan lagu the one yang groovy, tidak pelak gw ingin menulis mengenai band malik dan hubungannya dengan musik hitam amerika yang benang merahnya terlalu pekat untuk gw abaikan begitu saja. begitu kuat kemiripan2nya ini sehingga perasaan bangga muncul di sanubari gw - bangga karena interpretasi mereka yang sangat baik terhadap aliran besar ini sehingga menurut gw dapat mewakili indonesia dengan baik dalam kancah permusikan kulit hitam amerika.

    Walau begitu, kemiripan yang menonjol juga menimbulkan sedikit ketidakpuasan, yaitu ketidakpuasan karena tidak muncul suatu ciri yang benar2 unik yang dapat membedakannya dengan musik kulit hitam amerika tersebut. kemampuan interpretasi yang baik seolah menuntut gw untuk menuntut lebih banyak lagi terhadap band malik, untuk tidak saja menginterpretasi dengan diblok mati, tapi juga mensintesa sendiri elemen baru yang, jika tidak berbau indonesia-isme, setidaknya berbau malik-isme lah.

    Untuk menunjukkan poin gw ini bahwa malik hanyalah, istilahnya, "pour old wine into new bottles", atau konkretnya menawarkan musik yang tidak baru dalam kemasan band yang baru, kita harus mendekonstruksi lagu ini sedikit demi sedikit sehingga komponennya terlihat. mari kita mulai dari vokal.

    Vokal dalam soul memegang peranan yang mendasar sekali. jika tidak karena vokal, istilah musik soul itu sendiri mungkin tidak pernah ada. vokal menjadi penentu dasar apakah sebuah lagu itu soulful atau tidak. karakter suara manusia yang begitu unik yang tidak dapat digantikan oleh elemen alat musik lain, ekspresif, dan dicerna secara niskaya, membuat alunan vokal berhubungan dengan perasaan manusia secara metafisis yang tidak dapat dibayangkan.

     Malik memiliki vokal yang soulful. artinya, gaya menyanyi malik mengingatkan kita pada romantisme dan manerisme pelantun2 soul legendaris seperti al green, marvin gaye, otis redding, dll. gaya2 bernyanyi legenda2 ini mewakili suatu perasaan dimana seseorang bernyanyi dengan ketulusan yang demikian dalam terhadap apa yang dia ungkapkan dan oleh sebabnya seolah2 menandakan bahwa ia "really really mean what he/she said". hasilnya adalah kontrol vokal yang luar biasa. kelembutan, ketegaran, melankolia, kemarahan, pengharapan, pensyukuran adalah rasa2 yang bs muncul akibat gaya bernyanyi seperti demikian. satu benang merahnya, kesemua rasa2 ini langsung maupun tidak langsung, jauh ataupun dekat, pada akhirnya berhubungan dengan rasa cinta, karena biasanya hanya rasa cintalah yang mampu memicu manusia untuk menimbulkan rasa2 lainnya seperti diatas. intimisme antara soul dan cinta ini yang kerap dirasakan secara bawah sadar oleh pendengar ketika mendengar musik soul. ketika mendengarnya, ada rasa familiaritas yang tidak terkatakan, karena memang cinta itu ada di kehidupan kita setiap harinya. ketika kita berbicara bahwa seseorang menyanyi dengan soulful, selain kita dalam hati mengakui bahwa ia bernyanyi dengan kontrol vokal yang baik dengan ketulusan yang tinggi, kita juga bawah sadar mengakui mengalami asosiasi pribadi dengan elemen cinta yang mengalir dalam alunan suaranya.

     Acid jazz mengadopsi tidak saja soul, namun juga hip hop, dan juga jazz. contemporary r&b adalah soul lama a la marvin gaye yang dibalut dalam gaya produksi baru yang mengutamakan kemulusan suara2 instrumen dan aransemen produksi. dalam soul lama, dikenal teknik vokal group atau gospel choir yang memanfaatkan adanya suara2 pendukung yang dihasilkan backing vocal. aransemen yang dipilih malik, baik hubungannya disengaja ataupun tidak, mengadopsi penggunaan backing vocal seperti demikian juga. hasilnya adalah vokal2 yang rich, harmonius, dan gospel-esque. walau resultannya mengesankan, namun, secara aransemen dan music directing, tidak ada yang istimewa disini.

     Sekarang bergerak ke rhythm section dan apa yang dilakukan malik disitu. dua elemen mendasarnya, drum dan bass, benar2 "bermain" dalam lagu ini. emphasis pada drum dan bass yang menghasilkan komposisi rhytm yang ritmis dan energetik mengindikasikan sisi dance yang ingin dimunculkan oleh malik.

     Ada banyak jenis dance. dari rock and rollnya elvis, funknya george clinton, sampe trance-nya tiesto bs disebut dance. bahkan sebenarnya dance sendiri begitu mengakar di musik sampai ke level yang orang tidak sadari sebelumnya. dance sebenarnya erat kaitannya dengan musik jika kita menyadari bahwa dari jaman dahulu kala orang membuat musik banyak untuk dance. sifat dance yang meliberasikan adalah alasannya. dance dapat membebaskan seseorang, walau mungkin hanya untuk sementara, dari kondisi terbeban atau kejemuan yang mewarnai kesehariannya. jadi dance sangat fundamental di musik. apa tandanya? ritmis adalah tandanya. sebuah musik yang ritmis hampir selalu bs untuk dance, pada tempo berapapun! tentunya sang penari ketika dance harus mengikuti temponya supaya tidak offbeat. ketika kita bertanya bagaimana musik ritmis diciptakan, jawabannya sederhana, yakni dari alat2 musik perkusi yang tidak lain dari drum, yang dalam permainannya biasanya diiringi dengan bass.

      Permainan drum yang dijunjung malik, mengingatkan kita pada permainan drum funk yang cenderung ditengahnya memiliki break. break2 ini menghasilkan rhythm yang funky, attack2 drum yang memikat dengan timing yang handal, dan menggubah kekreativitasan drummer dalam mengisi improvisasi drum namun tetap dalam konteks tempo ketukan dasar. hasilnya adalah pendengar yang melakukan dua hal sekaligus: terbawa pada ritmis dasar konstannya untuk dance; dan sekaligus atensi pada permainan drummer yang dinamis dan improvisatoris. dengan kata lain, pendengar terdesak oleh dua daya, yang bercampur biasanya menjadi suatu perasaan mixed yang enak sekali dan sulit dikatakan. tidak heran jika funk adalah alternatif gaya musik bagi para pecinta musik jazz yang spontan dan penuh improvisasi namun ingin yang lebih dance-y. konsep yang "dance-y namun jazzy" inilah yang kerap diadopsi drummer2 soul ketika mengevolusi musik soul klasik menjadi genre2 baru seperti urban, new jack swing, contemporary r&b, dan tentunya acid jazz. tidak kalah juga dengan pengaruh jazz-nya, unsur rock juga berpengaruh pada munculnya drumming gaya funk. walau tidak berkontribusi dengan attack2 yang spontan, namun rock drumming berkontribusi pada pemberian ketukan steady 4/4 pada funk. ketukan steady yang umum ini memberikan assurance pada pendengar bahwa ritmis akan konstan walaupun didalamnya kejutan2 bisa terjadi. ritmis konstan ini penting untuk diyakini pendengar karena ia adalah dasar untuk dance. kita tidak ingin berdansa mengikuti musik yang ritmis dasarnya senantiasa berubah2 bukan? rhythm funk yang dimanfaatkan malik untuk track ini diadaptasi untuk lagu balada soul yang bertempo lambat. Hasilnya mirip interpretasi drum funk di lagu2 balada soul milik jamiroquai, eric gadd, maxwell, d’angelo, atau band2 legendaris funk soul seperti earth wind & fire, real thing, kool & the gang, dan heatwave.

      Setelah rhytym section drum sudah kita bahas, sekarang saatnya masuk kedalam areal melodic instrumentnya. Melodic instrument pertama yang akan kita bahas adalah bass, karena erat kaitannya dengan drum yang barusan sudah dibahas. bass bersamaan dengan drum membentuk satu unit powerhouse suatu band yang menjadi nyawa suatu band. ibaratnya mereka adalah denyut jantung yang memompa darah pada band. seperti jantung, band dengan degup yang kencang maupun yang lemah, mempengaruhi bagaimana band bekerja dan bagaimana band menghasilkan mood bagi penonton. bass yang rutin dan drum yang ritmis menghasilkan lagu yang tegas dan kuat seperti lagu2 rock dan turunan2nya. bass yang playful dan drum yang spontan menghasilkan lagu yang tak terduga, menggelitik telinga dan biasanya menuntut perhatian yang lebih besar - ini biasanya ada di jazz dan funk dan turunan2nya. jika bass saja atau drum saja yang dimainkan, lagu yang dihasilkan akan menghasilkan mood2 yang berbeda pula. musisi2 senantiasa bereksperimen dengan kombinasi2 antara bass dan drum ini.

      Bass yang dimainkan di track the one oleh malik adalah tipe bass playing yang groovy, yang kerap mengiringi permainan2 drum yang funky juga. Bass seperti ini menghidupi permainan dengan mengimbangi drum - keduanya "bermain-main" di dalam bar yang sudah ada. Seperti drum playingnya, permainan bass disini juga cenderung dengan timing2 yang off-center. Note2 di-attack pada momen2 yang nearly offbeat dan note2 ini bervariasi walau pada chord yang sama. Kesemuanya mengindikasikan spontanitas jazz yang juga diadopsi malik untuk lagu ini, walau tidak mengorbankan nuansa dance-nya yang dihasilkan oleh ritmis dasar yang tetap.

       Melodic instrument kedua yang ingin gw angkat adalah gitar. tipe permainan gitar disini termasuk ciri khas permainan gitar jazz. gitaris tidak memainkan keseluruhan note dari chord, hanya nada2 tinggi2nya saja. ditambah juga, gitaris cenderung memainkan gitarnya dengan halus dan cermat, daripada kencang dan ceroboh. walaupun kecil volume permainannya,keberadaan gitar di lagu ini menambah kelengkapan spektrum lagu dan menambah feel soulnya karena mengingatkan akan gaya nile rodgers ketika menggubah permainan gitarnya di chic atau sister sledge.

        Melodic instrument ketiga adalah keyboard. Seperti pada lagu2 funk tahun 70′an, sound keyboard yang dipilih berikut permainannya bs dikatakan vintage. bunyi2an synth space age dengan modulation adalah pemakaian sound yang kerap dipakai di music2 funk di era demikian. Penyebabnya mungkin karena di era tersebutlah, jaman space travel baru saja dimulai dan film sains fiksi angkasa luar seperti star wars, space oddysey, dan star trek meraja lela. sound keyboard ini cukup menjadi elemen melodik yang menjadi simbolisasi era vintage lagu ini dan memberi nuansa classic funk yang memang cocok dengan permainan drum dan bassnya.

      Melodic instrument terakhir adalah trumpet yang muncul di bridge dan di coda lagu. trumpet yang dimainkan oleh amar ini berkontribusi sangat besar dalam memberikan sisi sensual, romantisme, dan manerisme pada lagu. kontribusi pada sisi2 seperti ini mendukung vokal dan backing vocal dalam menciptakan suasana yang soulful mendukung ketimbang drum, bass, dan keyboard yang lebih mengarah dalam penciptaan nuansa yang funky dan dancey.

     Sekarang jika setiap elemen2 lagu ini dirangkum dan dikelompokkan pada posisinya masing2 menurut stereotip genre2 yang ada, kita mendapatkan dua genre besar yang saling bercampur, yaitu "soul" dan "funk" (gw beri tanda kutip disini karena soul dan funk yang dimaksudkan disini bukan dalam pengertian sebagai soul dan funk di zaman ketika istilah ini dilahirkan, tetapi lebih kepada produk2 evolusi baru dari soul dan funk yang, walaupun berevolusi, memiliki kesamaan esensi dengan soul dan funk yang orisinil di zaman dulu - ketulusan dan teknik vokal pada soul, dan spontanitas, improvisasi (jazzy) dan karakter dance pada funk). dari leluhurnya sebenarnya kedua genre ini memiliki kakek yang sama yaitu R&B atau race music (nama umbrella untuk segala musik yang tidak dihasilkan orang kulit putih amerika di awal abad 20). kedekatannya dengan rock n roll pun tidak dapat dipungkiri, sebab rock n roll pun lahir dari R&B. akibatnya ada tali temali historis - begitu juga tali temali nuansa ketika kita mendengarnya - yang menghubungkan soul, funk, R&B dan rock n roll. dalam kasus malik, soul dan funk yang muncul adalah turunan2 terakhir dari genre R&B yang telah terinkorporasi dengan teknologi perekaman dan teknologi produksi canggih berikut style produksi yang slick dan polished. hasilnya, sebuah karya contemporary R&B setradisi dengan soulfulness dari maxwell, terence trent d’arby, george michael, d’angelo, yang juga diwarnai elemen groove dan dance yang menemukan kelompoknya di area acid jazz a la brand new heavies, jamiroquai, drizabone, dan lisa stansfield. benang merah satu lapis lebih dalamnya - walau tidak sedalam sampe ke R&B - yaitu urban, dapat mengasosiasikan malik pada network musisi2 dan sphere of influence yang lebih luas lagi. didalam the one, kita dapat mendengar pengaruh2 tlc, babyface, boyz II men. dari elemen benang merah improvisasi funky-nya, kita dapat mengasosiasi malik dengan earth wind & fire, sade, kool & the gang, dan curtis mayfield.

KESIMPULAN

      Aliran yang diusung malik by all means bukanlah sebuah aliran baru. tapi lebih tepat digambarkan sebagai amalgamasi aliran2 lama yang dibentuk dalam kemasan band yang baru. yang bagus dari sini, mungkin baru buat gw secara pribadi, adalah aliran2 lama ini sangat familiar buat gw (bahkan gw sangat suka acid jazz dan contemporary R&B) sehingga cukup mudah buat gw untuk berasosiasi dengan lagu dari bar pertama. dari berasosiasi, gw jadi menyadari beberapa hal seperti: besarnya kadar adopsi musik indonesia terhadap black music amerika seperti yang terjadi seperti malik ini; interpretasi yang semakin baik dari band2 indonesia terhadap genre black music amerika yang terkenal itu; dan, yang tidak kalah penting, sisi negatif dari interpretasi yang terlalu imitatif terhadap musik luar negeri seperti demikian. dari perbincangan dekonstruktif musik malik diatas, gw tidak melihat ada sesuatu yang orisinil dari komposisi malik, terlepas dari lirik dan chord2 dasar lagu tentunya. secara aransemen, sound yang dihasilkan dan mood yang dihasilkan terlalu mirip dengan para genre panutannya (walau gw tidak keberatan secara personal karena gw suka sekali gabungan aliran - acid jazz and contemporary r&b seperti ini). namun buat gw pribadi, untuk benar2 mengesankan (yang mana gw kira malik bs melakukannya), adalah tidak dengan hanya meniru aransemen dan playing style yang sudah ada, namun dengan mencampur playing2 style dari genre2 yang jauh terpisah misalnya (contohnya daft punk, yang menggabungkan electronica dan rock n roll, atau erlend oye yang menggabungkan indie, folk, dan elektronica) atau bahkan, jika bisa, mensintesa genre yang sama sekali baru (walau gw menyadari ini sulit sekali). setidaknya yang paling minimal yang bs mereka lakukan adalah memperkaya khasanah aransemen mereka agar elemen2 lagu seperti yang telah dibahas diatas tidak terpaku pada hanya satu atau dua style saja (misalnya soul dan funk saja). jika diteruskan dengan pemahaman seperti ini, dengan terus berkreasi, sekaligus meningkatkan skill bermain tentunya, malik boleh jadi menjadi suatu band yang benar2 bs membanggakan buat indonesia di masa datang karena dua hal yang sama baiknya - dalam menginterpretasi genre idolanya dan dalam kekreativitasan meramu karya2 yang benar2 unik dan baru.

Social Climber: A Critical Analysis

Monday, December 11th, 2006

       Beranjak dari sebuah diskusi yang terjadi sekitar seminggu yang lalu, gw tergerak pada kesempatan ini untuk mengutaraka sepatah dua patah pemikiran mengenai sebuah istilah yang disebut dengan social climber.

      Gw bukan ahli mengenai social climber sehingga gw merasa tidak cukup kompeten untuk mendefinisikannya secara formal ala buku2 textbook perkuliahan. Yang gw tau dan pengen gw sebarkan adalah sebuah contoh nyata dari apa yang seorang social climber lakukan yang berasal dari pengamatan gw. Meskipun cuma contoh, tapi contoh inilah yang memicu gw untuk menulis tulisan ini. Simak situasi berikut ini yang menurut gw sangat menarik:

Seorang clubhopper di suatu kesempatan pada sebuah dj event mencoba, dengan agak memaksakan diri, untuk masuk kedalam foto2 yang dibuat oleh para fotografer majalah2 lifestyle ternama di ibukota, padahal tidak satupun anggota dari rombongan yang difoto fotografer mengenal si clubhopper ini dan tidak juga para fotografer berniat, atas alasan profesional, untuk memfoto sang clubhopper dari awalnya. Dengan kata lain si clubhopper "curi-curi" atau "numpang" untuk ikut sesi foto orang lain.

      Dengan mengasumsikan bahwa majalah2 dimana para fotografer bekerja sudah diketahui secara umum dan rombongan yang difoto oleh para fotografer juga bukan rombongan orang2 biasa, analisa gw tentang tujuan si clubhopper melakukan hal seperti diatas adalah sebagai berikut:

si clubhopper ingin memastikan kehadiran foto2 dirinya berdampingan bersama rombongan "istimewa" (yang tentunya menurut si clubhopper bukan hanya sembarang rombongan) di artikel2 di majalah2 tempat para fotografer tersebut bekerja (yang tentunya menurut si clubhopper juga bukan sembarang majalah).

      Pertanyaannya sekarang adalah tinggal: siapa sebenarnya rombongan "istimewa" itu yang didomplengi si clubhopper tersebut? artikel2 apakah sebenarnya yang ingin "dimasuki" oleh si clubhopper ini? dan, majalah2 manakah yang akan memuat artikel2 ini? Jawaban dari pertanyaan ini diberikan oleh insider gw. (Gw berterima kasih sebanyak2nya pada nara sumber gw ini). Beliau berkontribusi dalam menunjukkan di artikel2 seperti apakah foto2 itu akan muncul dan, yang terutama, menunjukkan dan menjelaskan tentang: rombongan orang2 "istimewa" yang ditumpangi oleh si clubhopper; dan majalah2 "istimewa" tempat artikel itu dipublikasikan.

      Menurut nara sumber gw itu, artikel2 yang dimaksud adalah artikel2 yang bersifat dokumentasi "people and current events" atau semacamnya, yang biasanya hanya memuat sedikit tulisan dan lebih banyak foto2 orang2 tertentu. Orang2 tertentu ini adalah rombongan2 istimewa yang di masyarakat yang kerap disebut "orang2 penting". Majalah2 tempat artikel2 ini berada ternyata juga tercakup dalam suatu kelompok majalah2 istimewa yang kerap diistilahkan dengan istilah "majalah2 penting".
      Meskipun gw harus mengaku bahwa ini bukan pertama kalinya gw mendengar istilah2 seperti ini disebutkan oleh orang2 - bahkan gw sendiri sering kali menggunakannya - pada kesempatan ini gw tergerak untuk melakukan analisis lebih dalam terhadap istilah2 ini dan terutama melakukan analisis pada hubungan antara istilah2 ini dengan perilaku yang menurut gw menarik (baca: aneh) yang dilakukan oleh si clubhopper tadi. Pada akhirnya gw cuma pengen membuktikan hipotesis gw bahwa si clubhopper ini just wasting time.

MAKSUD DAN TUJUAN

     Jika memang social climbers kita sepakati aja disini (salah satu jenisnya) sebagai orang2 yang ingin menumpangkan foto2 dirinya bersama "orang2 penting" di "majalah2 penting", maka yang menjadi main question gw dalam tulisan gw ini adalah: mengapa menumpangkan diri bersama "orang2 penting"? dan mengapa menumpangkan diri di "majalah2 penting"? dan sebenarnya "penting" itu apa? apakah sama dengan makna kata penting yang kita pahami?

       Pertanyaan2 diataslah yang akan gw coba analisa di tulisan ini. Pada akhirnya gw pengen mengambil suatu pernilaian: apakah si clubhopper melakukan suatu tindakan yang masuk akal dan tepat? dengan kata lain, apakah "penting" yang si clubhopper anggap penting itu adalah penting yang make sense, sehingga menjustifikasi keefektifan tindakannya yang menurut gw aneh itu ("numpang" di foto2 orang untuk nongol bersama2 orang2 itu di suatu artikel di majalah)? Yok, kita liat jawabannya bersama2.

INTRODUKSI

      Jadi social climber tuh sebenarnya apa? kalo dari arti langsung kata perkatanya aja sih: pendaki sosial, penjajak sosial, dsbnya. tapi untuk definisi formalnya gw memutuskan untuk tidak mendefinisi. Selain gw yakin pengertiannya mudah dicerna, menurut gw juga lebih baik prosesnya jika hakikat dan karakter istilah ini dimengerti sendiri dalam hati dari ciri2 khasnya dibawah.
      Ada feature pertama dari seorang social climber yang gw merasa mesti dijelaskan sedini mungkin: social climber itu tidak bisa diidentifikasi oleh pihak kedua, ketiga, atau berapapun. apakah seseorang adalah seorang social climber atau bukan pada hakekatnya hanya sang yang bersangkutan sendiri yang tau. Orang2 luar ketika menjudge apakah seseorang adalah social climber atau bukan hanya menggunakan dasar perilaku dan logika umum (common sense) saja. Sebab dari kesulitan ini adalah predikat social climber sendiri muncul dari sebuah hal yang abstrak yaitu niat atau motif atau intention sang pelakunya. Dalam arti: seseorang adalah social climber karena dia berniat untuk climb socially. Dia, dan hanya dialah, yang tau niat tersebut.
      Social climber sebenarnya bukan hal yang aneh karena pada dasarnya setiap orang ingin meningkat tahap sosialnya (menurut Maslow, salah satu kebutuhan manusia adalah apresiasi dari sesamanya/dunia sosialnya), namun akibat evolusi kehidupan metropolis, muncul penyempitan istilah social climber. Pendek kata, social climber yang dimaksudkan di tulisan ini adalah social climber yang melakukan hal seperti si clubhopper diatas. Untuk lebih mengasosiasikan social climber mana yang gw maksud tanpa gw harus mencoba mendefinisikan, social climbers seperti ini biasanya: media-interested dan pushing circumstances. Dengan kata lain: tertarik pada media dan memaksakan keadaan. Karena sifatnya yang tidak natural dalam penjajakan sosialnya seperti ini, istilah social climber yang baru ini hasilnya lebih bersifat konotatif daripada denotatif.
       Mengapa seorang social climber ingin menjadi seorang social climber, tepatnya berperilaku seperti yang digambarkan tadi? Alasannya bs bermacam2. Seperti yang sudah diungkap oleh informasi dari insider tadi, jawaban pertanyaan ini ada hubungannya dengan kata yang berbunyi "penting".

PENTING

       Kata sifat yang mengalami penyempitan makna ini kini adalah istilah yang biasanya melekat pada kata2 benda tertentu. "orang penting", "media penting" atau "tas penting" adalah beberapa contohnya. Menjadi "orang penting" adalah suatu hal yang diinginkan oleh para social climber. Frase baru ini lebih baik dijelaskan definisinya dengan contoh2 berikut. Contoh2 ini menggambarkan pandangan pragmatis walau naif tentang "orang penting" dari kacamata social climbers. Seseorang yang "penting" biasanya menikmati keuntungan2: masuk ke event2 ibukota dengan cuma2, diundang, bahkan dibayar untuk datang, umumnya karena asosiasinya dengan media, apakah karena dia adalah pelaku media atau karena dia sering menjadi objek media (contohnya selebriti). Seseorang yang "penting" sering menjadi "talk of the town", umumnya awalnya karena disulut oleh media juga. Seseorang yang "penting" sering disorot media sehingga menjadi trendsetter lifestyle di masyarakatnya. Di benak seorang social climbers, menjadi "orang penting" itu enak sekali.
       Dapat dipahami dengan mudah mengapa menjadi "orang penting" itu menarik sekali bagi social climbers. Fasilitas2 yang cuma2 hanyalah satu alasan kecil untuk mereka. Yang lebih besar adalah rasa prestise yang terlibat didalamnya - rasa dikagumi dan dihormati orang lain. Sayangnya, yang kurang dipahami oleh social climbers adalah adalah bagaimana perjuangan si "orang penting" menjadi "orang penting" at the first place. Tepatnya, yang tidak dipahami mereka adalah proses. Dan proses menentukan makna.

PROSES

       Ketika seseorang menjalani proses, makna yang didapat dari orang tersebut dari proses itu bertambah. Semakin panjang dan berliku2 proses, semakin dalam maknanya. Ketika seseorang menjalani proses belajar misalnya, keletihan2, pencapaian2, dan pembelajaran2 dalam proses belajar itu menambah makna dari proses tersebut. Contohnya proses membaca: jika pada awalnya, membaca hanya maknanya membaca, pada akhirnya, membaca dapat dimaknai hal2 sebagai berikut: penerusan peradaban manusia, pencarian jati diri dan kebahagiaan, atau mungkin juga usaha stimulasi otak atau lain2nya. Makna semakin besar sejalan dengan proses yang semakin panjang.
       Proses yang semakin panjang  berarti resources2 yang terpakai semakin banyak. Dalam ekonomi, ini berarti oportunity costnya juga makin besar. Dengan kata lain orang semakin rela untuk mengorbankan kepentingan2 yang lain demi proses tersebut yang sedang dijalankan. Pengorbanan ini memberi rasa gambling bagi orang tersebut, sebab output dari proses tidak pernah jelas. Rasa gambling dan spekulasi dan unpredictability memaksa orang untuk belajar, untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan dan meminimalisasi resiko. Semata2 dalam perjalanan belajar inilah, orang tersebut meningkat kualitas individualnya.
        Orang yang memang penting telah menjalankan proses. Proses yang dijalankan membutuhkan waktu dan pengorbanan resources. Proses yang dijalankanlah yang mendidik dan meningkatan kualitas seseorang. Proses itu pulalah yang menjadi tonggak eligibilitas untuk disebut sebagai "orang penting". Bukan langkah2 instan yang terlalu terburu2, dan tidak mencapai esensinya. Dunia tidak pernah terjadi secara instan; kata Aristoteles: "nature abhors discontinuities".
Social climbers yang tidak memahami pentingnya proses dan terjebak dalam pemikiran2 pendakian sosial secara instan akan menghadapi sebuah blunder yang tidak ada ujungnya. Salah satu dari cara2 yang instan tersebut - atau seperti yang gw istilahkan di awal dengan frase berbahasa inggris: "pushing circumstances" -  adalah seperti perilaku si clubhoppers di awal tadi.
        Selain "orang penting", ada satu elemen lagi yang krusial bagi social climbers dalam pendakian sosialnya. Elemen ini adalah media.

MEDIA

       Media seperti kita tau adalah majalah, televisi, radio, internet, dll. Seperti artinya, media hanyalah sebuah perantara yang berfungsi untuk menyuarakan informasi ke khalayak (baik umum atau tertutup). Meskipun ada fungsi yang tak kalah penting juga yakni media sebagai sumber hiburan, media di tulisan ini akan dibahas sebagai elemen yang identik dengan penyebaran informasi.
       Yang sering dilupakan oleh kita tentang media adalah proses subjektif dan motif profit-oriented yang terlibat didalamnya. Kita sering lupa bahwa ada jutaan informasi yang layak yang datang ke meja media setiap harinya dan media memutuskan "yang mana yang penting dan yang mana yang tidak penting" selalu dengan subjektivitas pribadinya. Kita juga sering lupa bahwa media membutuhkan profit, seperti layaknya perusahaan2 yang lain, untuk terus hidup dan berkembang. Karena inti produksinya sebenarnya adalah pengemasan dan seleksi berita dan produksi bertujuan untuk menghasilkan profit maka media menyeleksi dan mengemas informasi yang akan ditampilkannya berdasar pada profit making intentionnya. Dengan kata lain informasi yang terseleksi adalah informasi2 yang mampu menghasilkan profit2 yang diinginkan. Baik subjektivitas dan motif profit diseimbangkan oleh faktor ketiga yaitu etika jurnalisme. Ketiganya membentuk kutub2 yang saling tarik menarik, bertempur memperebutkan posisi yang dominan.

TIGA KUTUB

       Setiap organisasi media, seperti seorang individu tunggal, memiliki subjektivitas pribadinya. Ini biasanya disebut company policy-nya. Subjektivitas pribadi berfungsi yang utama untuk memberikan identitas pada organisasi. Tanpanya sebuah organisasi media kehilangan identitas, hanyalah clone dari organisasi2 media lainnya. Subjektivitas pribadi organisasi media banyak sekali berpengaruh dalam proses seleksi informasi yang akan disebarkan oleh sang media.
        Media juga harus menghasilkan revenue yang melebihi cost2nya. Ini karena media adalah organisasi profit. Dalam mencapai ini, sebuah organisasi media dengan organisasi media lain bersaing dalam basis packaging dan pemilihan berita walaupun isi beritanya sebenarnya sama saja. Pada suatu titik dalam proses produksinya, seorang manajer organisasi media akan bertanya: "berita manakah yang paling profitable?"
       Kedua gaya2 tadi akan diseimbangkan oleh etika2 jurnalisme, yaitu tonggak idealisme dasar yang membawahi semua aktivitas jurnalisme seperti media. Gontok2an kekuatan antara etika jurnalistik yang murni (dasar idealisme pembentukan media), company policy (tekanan untuk membentuk identitas unik) dan profit-making intention inilah yang akan menentukan berita mana yang masuk.
       Implikasi dari gontok2an ketiga kekuatan diatas contohnya adalah sebagai berikut: jika suatu kali ada berita yang secara etika jurnalisme lebih baik (misalnya lebih berhubungan dengan perbaikan kehidupan masyarakat umum), berita ini dapat "dikalahkan" oleh berita yang lebih cocok dengan company policy atau berita yang lebih menawarkan potensi keuntungan.
Dengan kata lain, pada satu atau lebih kesempatan, subjektivitas pribadi dan profit akan menang atas etika jurnalisme. Akibatnya nilai2 jurnalisme yang etis seperti keseimbangan pemberitaan dan orientasi pada masyarakat umum akan terabaikan.
       Pendominasian kekuatan profit-orientation atau kekuatan company policy diatas kekuatan etika jurnalisme yang menjadi dasar jurnalisme media sebenarnya dapat dikatakan wajar karena memang organisasi media bukanlah entitas non-profit. Karena alasan ini, dinamika2 pergeseran kekuatan etika jurnalisme ke kekuatan profit orientation harus dimaklumi. Namun yang disayangkan sebenarnya adalah di era dimana persaingan bisnis semakin kuat seperti sekarang ini, organisasi media semakin "terpaksa" untuk memenangkan kekuatan2 subjektivitas pribadi dan profit-making orientationnya daripada kekuatan etika jurnalismenya demi mendapat secuil margin revenue yang lebih tinggi dari saingannya. Efek dominonya organisasi2 media semakin berorientasi pada penciptaan branding untuk menguatkan citra company policynya di benak masyarakat dan cara2 pengumpulan keuntungan sebesar2nya daripada berkutat pada fungsi2 yang memberikan manfaat jurnalisme yang benar2 positif pengaruhnya pada masyarakat.
        Motif pengumpulan keuntungan sebesar2nya menciptakan organisasi2 media yang berorientasi pada iklan dan sumber2 keuntungan lainnya dibarengi penorehan citra organisasi yang sangat kuat di benak orang2. Media2 dengan brand yang kuat dan income-fanatic seperti inilah yang mendorong terciptanya istilah "media penting" di kalangan para social climbers.

MEDIA PENTING

        "Media penting" dengan image (citra diri) yang sangat kuat dan iklan-oriented ini menjadi elemen pendorong takasatmata (undercurrent force) di masyarakat. Akibat brand mereka yang menonjol di masyarakat yang diikuti oleh loyalitas yang timbul karena branding dan marketing yang kuat, ditambah dengan seringnya iklan yang dapat memberi ilusi pendapatan yang besar2an di mata masyarakat, "media2 penting" ini mendikte apa2 saja hal yang "penting" bagi pemirsanya melalui artikel2nya. Apa2 yang muncul dan hadir pada laporan mereka seolah langsung mendapat cap "penting" tanpa dipertanyakan lagi, seperti mandat penuh untuk menentukan selera pemirsanya. Bagi social climbers yang sedang mencari wahana untuk melakukan pendakian sosial mereka,  setiap artikel dalam media2 tersebut menjadi sangat berharga sebagai sarana untuk peningkatan status sosial. Artikel2 ini menjanjikan predikat dan prestise yang mereka cari2, yang cukup penting untuk membuat sang social climbers menghalalkan segala cara agar dirinya dapat terliput dan terpampang fotonya. Jika artikel yang muncul adalah kehidupan dan lifestyle para socialite ibukota misalnya (walaupun gw baru menyadari sedemikian gamangnya sendiri makna dari istilah "socialite" yang tersebut diatas), maka ikut masuk/terliput dalam foto2 para socialite yang sedang menghadiri suatu event di suatu tempat di ibukota menjadi suatu hal yang diamini sebagai alat untuk melangsungkan social climbing. Social climbers lupa bahwa "penting"nya organisasi2 media "penting" yang mereka pilih sebagai wahana mereka untuk melakukan social climbing sebenarnya adalah akibat dari brand yang kuat beserta iklan yang banyak, bukan berbasiskan etika2 jurnalisme murni yang seharusnya menjadi basis media. Pemilihan berita2 yang berdasarkan company policy dan profit-orientation yang bertujuan untuk hanya  menghasilkan kuatnya brand dan besarnya keuntungan seperti inilah yang sebenarnya tidak bs langsung dikorelasikan dengan kata penting yang sebenarnya.

PENTING YANG SEBENARNYA

        Pada intinya, kata "penting" yang berhubungan dengan organisasi media yang sang social climber rujuk sebagai "media penting" tersebut hanyalah sebuah "penting" yang ilusif. Yaitu "penting" yang muncul dari: 1. kuatnya brand organisasi media dalam benak masyarakat dan 2. perilaku profit-fanatic organisasi media yang tercermin dalam komposisi iklan yang menonjol dan kecondongan konten media kepada hal2 yang profit-potential-nya tinggi.
      Lantas pertanyaannya, mengapa brand yang kuat dan keuntungan tidak bs dikatakan penting? Pertanyaan ini akhirnya membawa kita pada pertanyaan yaitu bagaimana kata "penting" itu seharusnya didefinisikan. Apa yang membuat penting itu penting? Dalam menjawab pertanyaan ini, seperti biasanya ketika menghadapi istilah yang baru, gw tidak akan secara formal mendefinisikan kata "penting". Yang akan gw lakukan adalah mencoba mengasosiasikannya dengan konsep2 yang lebih mudah dipahami. Karena penting itu adalah predikat yang diberikan orang kepada sesuatu benda, maka penting sangat erat hubungannya dengan orang. Orang2lah sang hakim utama apa yang penting. Karena keadaan orang yang berbeda2, penting bagi satu orang belom tentu penting bagi orang lain, begitu juga penting di satu tempat belom tentu penting di tempat lain karena orang2nya memiliki kondisi yang berbeda2. Walau begitu, di satu komunitas, ada hal2 yang penting bukan bagi satu, atau dua orang saja tapi bagi banyak orang.  Semakin banyak orang yang menganggap suatu hal penting, maka hal tersebut semakin penting dan keabsahan predikat pentingnya semakin teruji. Sebaliknya jika hanya satu orang yang menganggap suatu hal penting, maka hal2 tersebut tidak bisa dikatakan penting. Begitulah konsep pertama yang gw asosiasikan dengan kata penting, yaitu "untuk orang banyak".
Konsep kedua adalah mengapa sebuah hal bisa menjadi penting bagi seseorang. Jawabannya bisa terlihat dari apa kontribusi hal tersebut dalam kehidupan seseorang. apakah hal tersebut memberinya resources? atau apakah hal tersebut meningkatkan produktifitasnya? yang pasti, hal yang penting adalah hal yang bermanfaat bagi kehidupan pemakainya. Inilah konsep kedua tentang kata "penting" yang gw gunakan, yaitu "bermanfaat".
Dari kedua konsep, gw dapat menyimpulkan bahwa penting itu ada hubungannya dengan bermanfaat untuk orang banyak. Hal2 yang sifatnya tidak seperti ini dapat dengan aman gw katakan tidak penting. Berhubungan dengan media, ada dua lagi konsep yang harus berhubungan dengan kata penting, yakni edukatif dan pemberitaan yang seimbang. Ketiganya, jika dirangkum, menjadi: edukatif, dengan pemberitaan yang seimbang, dan bermanfaat untuk orang banyak. Media dengan karakteristik seperti inilah yang menurut gw patut mengemban predikat "penting".
        "Penting" seperti yang dijelaskan diatas pada dasarnya berkubu dengan etika2 inti jurnalisme, karena sifatnya yang menonjolkan edukasi, pemberitaan yang seimbang, dan kontribusi bagi masyarakat banyak. Ironisnya disini adalah menguatkan kekuatan di kubu etika jurnalisme berarti mengurangi prioritas di dua kekuatan lainnya, yaitu company policy dan profit-making oriented. Organisasi media yang menganut komposisi kekuatan yang lebih berprioritas pada etika jurnalisme  inilah yang semakin jarang ditemukan di era yang kompetitif seperti ini. Walaupun semakin sedikit jumlahnya, namun apa2 yang ditampilkan oleh organisasi media ini memenuhi kriteria sebagai sesuatu yang penting dalam arti yang sebenarnya: dalam makna edukatif, berimbang, dan bermanfaat bagi orang banyak. Organisasi2 media seperti inilah yang seharusnya diproritaskan social climbers dalam penjajakan jenjang sosialnya.

KESIMPULAN

       Para social climber yang telah mengkaitkan dirinya dengan "orang2 penting" dan "media2 penting" secara sengaja dalam pendakian sosialnya tersebut pada intinya telah menjalani 2 kesalahan. Yang pertama adalah perancuan dalam memahami pentingnya proses (tepatnya dalam mengenali proses panjang yang terjadi yang membuat seorang yang penting "penting"). 2. Perancuan dalam mengenali media mana yang benar2 penting dan media mana yang hanya "penting" dalam pendekatan mereka untuk social climbing. Akibat dari kedua kesalahan ini yang fundamental ini, pencapaian2 mereka dalam usaha untuk social climbing menjadi hampa dan tidak berarti apa2. Pencapaian mereka hanya sebatas penampakan yang fana dan sangat temporer saja. Ketika dikorek dan dibahas ke dalam sedikit saja, akan tampak bahwa sebenarnya para social climber tidak sukses dalam climbing socialnya, atau dengan kata lain, mereka tidak menjadi lebih penting dari sebelumnya. Orang2 yang muncul di foto2 artikel suatu event ibukota misalnya, disamping para rombongan socialite dan tokoh2 ibukota, akan cepat dilupakan orang karena mereka tidak melakukan hal2 yang benar2 bermakna bagi orang banyak. Dan yang lebih parah lagi, tidak ada pembelajaran dalam proses menjadi penting mereka yang instan ini yang dapat mendongkrak kualitas individual mereka. Dengan kata lain, mereka jalan di tempat, membuang2 waktu dan resources untuk sesuatu yang nol yang seharusnya bs mereka gunakan untuk yang lain.

PENUTUP

        Di dunia yang instan seperti sekarang mungkin dorongan untuk mencapai hal secara instan besar. Sayangnya dunia tidak bekerja semudah itu, bahkan, jika dibandingkan dengan masa lalu, sekarang seseorang harus bekerja lebih keras dan cerdas agar dia dapat menjadi apa yang diinginkannya. Di dunia yang kompetitif dan kapitalis ini pula, dorongan untuk mengejar profit terlalu besar untuk dielakkan, akibatnya idealisme dan etika tergeserkan. Orang2, di bawah tameng organisasi2, semakin mendewakan profit dan dividen. Yang masih menjunjung etika dan idealisme semakin langka ibarat batang pohon yang kurus yang tertancap di sungai melawan arus yang kuat. Idealis2 ini sepi dan sendiri, namun kesendiriannya bermakna jauh dibandingkan dengan batang2 pohon lain yang hanyut. Social climber yang sejati mengenali organisasi2 idealis ini. Mereka mengenalinya sebagai sarana untuk meningkatkan jenjang sosialnya, walau bukan cara utamanya. Social climber yang sejati memanfaatkan kualitas individunya untuk memberi manfaat bagi orang banyak, yakni menjadi "orang penting" sebenarnya. Organisasi2 media hanyalah membantu menunjukkannya ke dunia.