Archive for February, 2007

Just Skimming Through (The Strait Times, Thursday, February 15 2007)

Friday, February 23rd, 2007

"There are two ways to approach our cultural crossroads. You can either wring your hands and lament that literacy today has less to do with Wordsworth or Faulkner and more to do with "how we find our way through the digital forest of information overload".

Or you can… pick up a copy of Professor Pierre Bayard’s best selling How To Talk About Books You Haven’t Read.

Prof. Bayard, a 52-year-old professor of literature and a psychoanalyst, has gotten this far without ever having picked up Oliver Twist or finished Ulysses. …In his view, to engage with one book is to give the acquaintance of many others."

"Say what you will about Prof Bayard, he forces us to confront a paradox of our age. By one estimate, 27 novels are published every day in America. A new blog is created every second. We would appear to be in a midst of a full blown epidemic of graphomania. Surely we have never read, or written, so many words a day. Yet increasingly, we deal in atomised bits of information, the hors d’oeuvres of education. We read not in continuous narratives but by linkage, the movable type of the 21st century. Our appetites are gargantuan, our attention spans anorectic. Small wonder that trivia is enjoying a renaissance. We are very good on questions like why men fall asleep after sex and why penguin’s feet do not freeze.

Recently Ms Cathleen Black, president of Hearst Magazines, urged a group of publishing executives to think of their audience as consumers rather than readers. She’s on to something: Arguably the very definition of reading has changed. So Google asserts, in defending its rights to scan copyrighted materials. The process of digitizing books transformes them, the company contends, to something else; our engagement with the text is different when we call it up online. We are no longer reading. We are searching - a function that conveniently did not exist when the concept of copyright was established.

All of which sent us back to te king of content-free reading, the Ur-blogger. There was to be no tough sledding for this consumer, who never bit his nails over Aristotle. Among distracted readers he has no equal; as disjointed, derivative writers go, he is a man for our times. Five centuries ago, he pioneered Prof. Bayard’s reviewing technique: Leave the book under discussion unopened before you. Then write about yourself."

STACY SCHIFF

The writer is the author, most recently, of A Great Improvisation: Franklin, France, And The Birth of America

Meledakkan Kemelakatan (Kompas, Sabtu, 3 Februari 2007)

Thursday, February 15th, 2007

"Suatu kali ada raja yang telah membangun tidak terhitung jumlah tempat ibadah, datang ke Bodhidharma. Dengan bangga, raja bertanya, saya sudah membangun ratusan tempat ibadah, berapa pahalanya? Tanpa menoleh, Bodhidharma menjawab, "Tidak ada pahala-pahalaan!"

Inilah persoalan kekinian. Berbuat namun melekat. Tentu saja ada pahala karena ini hukum alam. Tetapi, melekat jika tindakan harus diikuti pahala, bertindak membuat pelakunya tidak bebas, kotor dengan ego, salah-salah kecewa. Ini yang diledakkan Bodhidharma dengan: "berbuat, lepas, ikhlas".

"Meledakkan kemelakatan menghasilkan keindahan, layak direnungkan, wajah kebenaran dan kesucian yang mengerikan. Zen sudah meledakkan kemelakatan sebagai inti semua ini. Setelah kemelekatan diledakkan, ternyata oleh keikhlasan dibukakan keindahan. Ini sebabnya orang-orang di jalan ini berbisik, "God is beautiful, that’s why He loves beauty."

GEDE PRAMA

Penulis Sejumlah Buku, Bekerja di Jakarta, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Tanya dan Jawab (Kompas, Sabtu, 3 Februari 2007)

Thursday, February 15th, 2007

"Mengapa bangsa ini lebih suka jawaban daripada pertanyaan? Hidup di Indonesia tak perlu pertanyaan. Ibarat tongkat kayu menjadi tanaman seperti dinyanyikan Koes Plus. Dengan bekerja 08.00-14.00 sudah cukup. Untuk apa meniru bangsa lain, yang pulang pukul 18.00? Bekerja di sawah itu cukup pukul 06.00-12.00, mengapa harus sehari suntuk? Tidur siang itu penting bagi orang Indonesia. Indonesia ini zamrud khatulistiwa, gemah ripah low jinawi, penghasil tanaman rempah-rempah yang tak harus dijadikan industri. Lempar saja batang cengkeh, akan tumbuh sendiri. Lalu, untuk apa bertanya? Untuk apa berpikir?"

"Jacques Rolland, sobat filsuf Levinas, menyatakan, latihan berpikir adalah bertanya. Bertanya menandakan seseorang sedang berpikir atau memikirkan sesuatu yang sedang menjadi persoalan dirinya. Bertanya itu berpikir. Menerima jawaban sebanyak-banyaknya itu tidak berpikir. Pikirannya hanya mencerna jawaban-jawaban dan itu hasil pertanyaan orang lain. Menimbun jawaban tidak serta-merta seseorang mampu membuat pertanyaan sebab aneka jawaban itu tak pernah dipertanyakan. Benarkah Bung Karno, benarkah Tan Malaka, benarkah Pramoedya, Marx, Kant, Foucault?"

JAKOB SUMARDJO

Esais

Filsafat Itu Mengasyikkan (Kompas, Senin, 12 Februari 2007)

Thursday, February 15th, 2007

"Bagi para filsuf, konsep memiliki yang lebih tinggi bukannya berupa pengumpulan dan penumpukan materi, melainkan memiliki dengan jiwa dan akal sehat terhadap ilmu dan pengetahuan yang benar. Keberanan dan jalan hidup yang benar, yang mestinya menjadi prioritas untuk dimiliki dengan jiwa dan pikiran. Dengan cara pandang ini, maka menjadi jelas konsep kekayaan dan kepemilikan menurut filsuf. Hal ini cukup menonjol pada perjalanan hidup dan jati diri Driyarkara, yang memilih kekayaan batin dan pengetahuan ketimbang popularitas dan jabatan, meskipun jalan terbentang."

KOMARUDDIN HIDAYAT

Guru Besar Filsafat dan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta; Pernah Menjadi Dosen Islamologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara