Tanya dan Jawab (Kompas, Sabtu, 3 Februari 2007)

February 15th, 2007 by gotahouseyfeelinonit

"Mengapa bangsa ini lebih suka jawaban daripada pertanyaan? Hidup di Indonesia tak perlu pertanyaan. Ibarat tongkat kayu menjadi tanaman seperti dinyanyikan Koes Plus. Dengan bekerja 08.00-14.00 sudah cukup. Untuk apa meniru bangsa lain, yang pulang pukul 18.00? Bekerja di sawah itu cukup pukul 06.00-12.00, mengapa harus sehari suntuk? Tidur siang itu penting bagi orang Indonesia. Indonesia ini zamrud khatulistiwa, gemah ripah low jinawi, penghasil tanaman rempah-rempah yang tak harus dijadikan industri. Lempar saja batang cengkeh, akan tumbuh sendiri. Lalu, untuk apa bertanya? Untuk apa berpikir?"

"Jacques Rolland, sobat filsuf Levinas, menyatakan, latihan berpikir adalah bertanya. Bertanya menandakan seseorang sedang berpikir atau memikirkan sesuatu yang sedang menjadi persoalan dirinya. Bertanya itu berpikir. Menerima jawaban sebanyak-banyaknya itu tidak berpikir. Pikirannya hanya mencerna jawaban-jawaban dan itu hasil pertanyaan orang lain. Menimbun jawaban tidak serta-merta seseorang mampu membuat pertanyaan sebab aneka jawaban itu tak pernah dipertanyakan. Benarkah Bung Karno, benarkah Tan Malaka, benarkah Pramoedya, Marx, Kant, Foucault?"

JAKOB SUMARDJO

Esais

Filsafat Itu Mengasyikkan (Kompas, Senin, 12 Februari 2007)

February 15th, 2007 by gotahouseyfeelinonit

"Bagi para filsuf, konsep memiliki yang lebih tinggi bukannya berupa pengumpulan dan penumpukan materi, melainkan memiliki dengan jiwa dan akal sehat terhadap ilmu dan pengetahuan yang benar. Keberanan dan jalan hidup yang benar, yang mestinya menjadi prioritas untuk dimiliki dengan jiwa dan pikiran. Dengan cara pandang ini, maka menjadi jelas konsep kekayaan dan kepemilikan menurut filsuf. Hal ini cukup menonjol pada perjalanan hidup dan jati diri Driyarkara, yang memilih kekayaan batin dan pengetahuan ketimbang popularitas dan jabatan, meskipun jalan terbentang."

KOMARUDDIN HIDAYAT

Guru Besar Filsafat dan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta; Pernah Menjadi Dosen Islamologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Bedah lagu: The One - Malik n d’essentials

December 22nd, 2006 by gotahouseyfeelinonit

Mengapa Malik n D’Essentials hanyalah salah satu dari sekian banyak reinkarnasi baru dari aliran acid jazz and contemporary r&b?

     Mendengar alunan lagu the one yang groovy, tidak pelak gw ingin menulis mengenai band malik dan hubungannya dengan musik hitam amerika yang benang merahnya terlalu pekat untuk gw abaikan begitu saja. begitu kuat kemiripan2nya ini sehingga perasaan bangga muncul di sanubari gw - bangga karena interpretasi mereka yang sangat baik terhadap aliran besar ini sehingga menurut gw dapat mewakili indonesia dengan baik dalam kancah permusikan kulit hitam amerika.

    Walau begitu, kemiripan yang menonjol juga menimbulkan sedikit ketidakpuasan, yaitu ketidakpuasan karena tidak muncul suatu ciri yang benar2 unik yang dapat membedakannya dengan musik kulit hitam amerika tersebut. kemampuan interpretasi yang baik seolah menuntut gw untuk menuntut lebih banyak lagi terhadap band malik, untuk tidak saja menginterpretasi dengan diblok mati, tapi juga mensintesa sendiri elemen baru yang, jika tidak berbau indonesia-isme, setidaknya berbau malik-isme lah.

    Untuk menunjukkan poin gw ini bahwa malik hanyalah, istilahnya, "pour old wine into new bottles", atau konkretnya menawarkan musik yang tidak baru dalam kemasan band yang baru, kita harus mendekonstruksi lagu ini sedikit demi sedikit sehingga komponennya terlihat. mari kita mulai dari vokal.

    Vokal dalam soul memegang peranan yang mendasar sekali. jika tidak karena vokal, istilah musik soul itu sendiri mungkin tidak pernah ada. vokal menjadi penentu dasar apakah sebuah lagu itu soulful atau tidak. karakter suara manusia yang begitu unik yang tidak dapat digantikan oleh elemen alat musik lain, ekspresif, dan dicerna secara niskaya, membuat alunan vokal berhubungan dengan perasaan manusia secara metafisis yang tidak dapat dibayangkan.

     Malik memiliki vokal yang soulful. artinya, gaya menyanyi malik mengingatkan kita pada romantisme dan manerisme pelantun2 soul legendaris seperti al green, marvin gaye, otis redding, dll. gaya2 bernyanyi legenda2 ini mewakili suatu perasaan dimana seseorang bernyanyi dengan ketulusan yang demikian dalam terhadap apa yang dia ungkapkan dan oleh sebabnya seolah2 menandakan bahwa ia "really really mean what he/she said". hasilnya adalah kontrol vokal yang luar biasa. kelembutan, ketegaran, melankolia, kemarahan, pengharapan, pensyukuran adalah rasa2 yang bs muncul akibat gaya bernyanyi seperti demikian. satu benang merahnya, kesemua rasa2 ini langsung maupun tidak langsung, jauh ataupun dekat, pada akhirnya berhubungan dengan rasa cinta, karena biasanya hanya rasa cintalah yang mampu memicu manusia untuk menimbulkan rasa2 lainnya seperti diatas. intimisme antara soul dan cinta ini yang kerap dirasakan secara bawah sadar oleh pendengar ketika mendengar musik soul. ketika mendengarnya, ada rasa familiaritas yang tidak terkatakan, karena memang cinta itu ada di kehidupan kita setiap harinya. ketika kita berbicara bahwa seseorang menyanyi dengan soulful, selain kita dalam hati mengakui bahwa ia bernyanyi dengan kontrol vokal yang baik dengan ketulusan yang tinggi, kita juga bawah sadar mengakui mengalami asosiasi pribadi dengan elemen cinta yang mengalir dalam alunan suaranya.

     Acid jazz mengadopsi tidak saja soul, namun juga hip hop, dan juga jazz. contemporary r&b adalah soul lama a la marvin gaye yang dibalut dalam gaya produksi baru yang mengutamakan kemulusan suara2 instrumen dan aransemen produksi. dalam soul lama, dikenal teknik vokal group atau gospel choir yang memanfaatkan adanya suara2 pendukung yang dihasilkan backing vocal. aransemen yang dipilih malik, baik hubungannya disengaja ataupun tidak, mengadopsi penggunaan backing vocal seperti demikian juga. hasilnya adalah vokal2 yang rich, harmonius, dan gospel-esque. walau resultannya mengesankan, namun, secara aransemen dan music directing, tidak ada yang istimewa disini.

     Sekarang bergerak ke rhythm section dan apa yang dilakukan malik disitu. dua elemen mendasarnya, drum dan bass, benar2 "bermain" dalam lagu ini. emphasis pada drum dan bass yang menghasilkan komposisi rhytm yang ritmis dan energetik mengindikasikan sisi dance yang ingin dimunculkan oleh malik.

     Ada banyak jenis dance. dari rock and rollnya elvis, funknya george clinton, sampe trance-nya tiesto bs disebut dance. bahkan sebenarnya dance sendiri begitu mengakar di musik sampai ke level yang orang tidak sadari sebelumnya. dance sebenarnya erat kaitannya dengan musik jika kita menyadari bahwa dari jaman dahulu kala orang membuat musik banyak untuk dance. sifat dance yang meliberasikan adalah alasannya. dance dapat membebaskan seseorang, walau mungkin hanya untuk sementara, dari kondisi terbeban atau kejemuan yang mewarnai kesehariannya. jadi dance sangat fundamental di musik. apa tandanya? ritmis adalah tandanya. sebuah musik yang ritmis hampir selalu bs untuk dance, pada tempo berapapun! tentunya sang penari ketika dance harus mengikuti temponya supaya tidak offbeat. ketika kita bertanya bagaimana musik ritmis diciptakan, jawabannya sederhana, yakni dari alat2 musik perkusi yang tidak lain dari drum, yang dalam permainannya biasanya diiringi dengan bass.

      Permainan drum yang dijunjung malik, mengingatkan kita pada permainan drum funk yang cenderung ditengahnya memiliki break. break2 ini menghasilkan rhythm yang funky, attack2 drum yang memikat dengan timing yang handal, dan menggubah kekreativitasan drummer dalam mengisi improvisasi drum namun tetap dalam konteks tempo ketukan dasar. hasilnya adalah pendengar yang melakukan dua hal sekaligus: terbawa pada ritmis dasar konstannya untuk dance; dan sekaligus atensi pada permainan drummer yang dinamis dan improvisatoris. dengan kata lain, pendengar terdesak oleh dua daya, yang bercampur biasanya menjadi suatu perasaan mixed yang enak sekali dan sulit dikatakan. tidak heran jika funk adalah alternatif gaya musik bagi para pecinta musik jazz yang spontan dan penuh improvisasi namun ingin yang lebih dance-y. konsep yang "dance-y namun jazzy" inilah yang kerap diadopsi drummer2 soul ketika mengevolusi musik soul klasik menjadi genre2 baru seperti urban, new jack swing, contemporary r&b, dan tentunya acid jazz. tidak kalah juga dengan pengaruh jazz-nya, unsur rock juga berpengaruh pada munculnya drumming gaya funk. walau tidak berkontribusi dengan attack2 yang spontan, namun rock drumming berkontribusi pada pemberian ketukan steady 4/4 pada funk. ketukan steady yang umum ini memberikan assurance pada pendengar bahwa ritmis akan konstan walaupun didalamnya kejutan2 bisa terjadi. ritmis konstan ini penting untuk diyakini pendengar karena ia adalah dasar untuk dance. kita tidak ingin berdansa mengikuti musik yang ritmis dasarnya senantiasa berubah2 bukan? rhythm funk yang dimanfaatkan malik untuk track ini diadaptasi untuk lagu balada soul yang bertempo lambat. Hasilnya mirip interpretasi drum funk di lagu2 balada soul milik jamiroquai, eric gadd, maxwell, d’angelo, atau band2 legendaris funk soul seperti earth wind & fire, real thing, kool & the gang, dan heatwave.

      Setelah rhytym section drum sudah kita bahas, sekarang saatnya masuk kedalam areal melodic instrumentnya. Melodic instrument pertama yang akan kita bahas adalah bass, karena erat kaitannya dengan drum yang barusan sudah dibahas. bass bersamaan dengan drum membentuk satu unit powerhouse suatu band yang menjadi nyawa suatu band. ibaratnya mereka adalah denyut jantung yang memompa darah pada band. seperti jantung, band dengan degup yang kencang maupun yang lemah, mempengaruhi bagaimana band bekerja dan bagaimana band menghasilkan mood bagi penonton. bass yang rutin dan drum yang ritmis menghasilkan lagu yang tegas dan kuat seperti lagu2 rock dan turunan2nya. bass yang playful dan drum yang spontan menghasilkan lagu yang tak terduga, menggelitik telinga dan biasanya menuntut perhatian yang lebih besar - ini biasanya ada di jazz dan funk dan turunan2nya. jika bass saja atau drum saja yang dimainkan, lagu yang dihasilkan akan menghasilkan mood2 yang berbeda pula. musisi2 senantiasa bereksperimen dengan kombinasi2 antara bass dan drum ini.

      Bass yang dimainkan di track the one oleh malik adalah tipe bass playing yang groovy, yang kerap mengiringi permainan2 drum yang funky juga. Bass seperti ini menghidupi permainan dengan mengimbangi drum - keduanya "bermain-main" di dalam bar yang sudah ada. Seperti drum playingnya, permainan bass disini juga cenderung dengan timing2 yang off-center. Note2 di-attack pada momen2 yang nearly offbeat dan note2 ini bervariasi walau pada chord yang sama. Kesemuanya mengindikasikan spontanitas jazz yang juga diadopsi malik untuk lagu ini, walau tidak mengorbankan nuansa dance-nya yang dihasilkan oleh ritmis dasar yang tetap.

       Melodic instrument kedua yang ingin gw angkat adalah gitar. tipe permainan gitar disini termasuk ciri khas permainan gitar jazz. gitaris tidak memainkan keseluruhan note dari chord, hanya nada2 tinggi2nya saja. ditambah juga, gitaris cenderung memainkan gitarnya dengan halus dan cermat, daripada kencang dan ceroboh. walaupun kecil volume permainannya,keberadaan gitar di lagu ini menambah kelengkapan spektrum lagu dan menambah feel soulnya karena mengingatkan akan gaya nile rodgers ketika menggubah permainan gitarnya di chic atau sister sledge.

        Melodic instrument ketiga adalah keyboard. Seperti pada lagu2 funk tahun 70′an, sound keyboard yang dipilih berikut permainannya bs dikatakan vintage. bunyi2an synth space age dengan modulation adalah pemakaian sound yang kerap dipakai di music2 funk di era demikian. Penyebabnya mungkin karena di era tersebutlah, jaman space travel baru saja dimulai dan film sains fiksi angkasa luar seperti star wars, space oddysey, dan star trek meraja lela. sound keyboard ini cukup menjadi elemen melodik yang menjadi simbolisasi era vintage lagu ini dan memberi nuansa classic funk yang memang cocok dengan permainan drum dan bassnya.

      Melodic instrument terakhir adalah trumpet yang muncul di bridge dan di coda lagu. trumpet yang dimainkan oleh amar ini berkontribusi sangat besar dalam memberikan sisi sensual, romantisme, dan manerisme pada lagu. kontribusi pada sisi2 seperti ini mendukung vokal dan backing vocal dalam menciptakan suasana yang soulful mendukung ketimbang drum, bass, dan keyboard yang lebih mengarah dalam penciptaan nuansa yang funky dan dancey.

     Sekarang jika setiap elemen2 lagu ini dirangkum dan dikelompokkan pada posisinya masing2 menurut stereotip genre2 yang ada, kita mendapatkan dua genre besar yang saling bercampur, yaitu "soul" dan "funk" (gw beri tanda kutip disini karena soul dan funk yang dimaksudkan disini bukan dalam pengertian sebagai soul dan funk di zaman ketika istilah ini dilahirkan, tetapi lebih kepada produk2 evolusi baru dari soul dan funk yang, walaupun berevolusi, memiliki kesamaan esensi dengan soul dan funk yang orisinil di zaman dulu - ketulusan dan teknik vokal pada soul, dan spontanitas, improvisasi (jazzy) dan karakter dance pada funk). dari leluhurnya sebenarnya kedua genre ini memiliki kakek yang sama yaitu R&B atau race music (nama umbrella untuk segala musik yang tidak dihasilkan orang kulit putih amerika di awal abad 20). kedekatannya dengan rock n roll pun tidak dapat dipungkiri, sebab rock n roll pun lahir dari R&B. akibatnya ada tali temali historis - begitu juga tali temali nuansa ketika kita mendengarnya - yang menghubungkan soul, funk, R&B dan rock n roll. dalam kasus malik, soul dan funk yang muncul adalah turunan2 terakhir dari genre R&B yang telah terinkorporasi dengan teknologi perekaman dan teknologi produksi canggih berikut style produksi yang slick dan polished. hasilnya, sebuah karya contemporary R&B setradisi dengan soulfulness dari maxwell, terence trent d’arby, george michael, d’angelo, yang juga diwarnai elemen groove dan dance yang menemukan kelompoknya di area acid jazz a la brand new heavies, jamiroquai, drizabone, dan lisa stansfield. benang merah satu lapis lebih dalamnya - walau tidak sedalam sampe ke R&B - yaitu urban, dapat mengasosiasikan malik pada network musisi2 dan sphere of influence yang lebih luas lagi. didalam the one, kita dapat mendengar pengaruh2 tlc, babyface, boyz II men. dari elemen benang merah improvisasi funky-nya, kita dapat mengasosiasi malik dengan earth wind & fire, sade, kool & the gang, dan curtis mayfield.

KESIMPULAN

      Aliran yang diusung malik by all means bukanlah sebuah aliran baru. tapi lebih tepat digambarkan sebagai amalgamasi aliran2 lama yang dibentuk dalam kemasan band yang baru. yang bagus dari sini, mungkin baru buat gw secara pribadi, adalah aliran2 lama ini sangat familiar buat gw (bahkan gw sangat suka acid jazz dan contemporary R&B) sehingga cukup mudah buat gw untuk berasosiasi dengan lagu dari bar pertama. dari berasosiasi, gw jadi menyadari beberapa hal seperti: besarnya kadar adopsi musik indonesia terhadap black music amerika seperti yang terjadi seperti malik ini; interpretasi yang semakin baik dari band2 indonesia terhadap genre black music amerika yang terkenal itu; dan, yang tidak kalah penting, sisi negatif dari interpretasi yang terlalu imitatif terhadap musik luar negeri seperti demikian. dari perbincangan dekonstruktif musik malik diatas, gw tidak melihat ada sesuatu yang orisinil dari komposisi malik, terlepas dari lirik dan chord2 dasar lagu tentunya. secara aransemen, sound yang dihasilkan dan mood yang dihasilkan terlalu mirip dengan para genre panutannya (walau gw tidak keberatan secara personal karena gw suka sekali gabungan aliran - acid jazz and contemporary r&b seperti ini). namun buat gw pribadi, untuk benar2 mengesankan (yang mana gw kira malik bs melakukannya), adalah tidak dengan hanya meniru aransemen dan playing style yang sudah ada, namun dengan mencampur playing2 style dari genre2 yang jauh terpisah misalnya (contohnya daft punk, yang menggabungkan electronica dan rock n roll, atau erlend oye yang menggabungkan indie, folk, dan elektronica) atau bahkan, jika bisa, mensintesa genre yang sama sekali baru (walau gw menyadari ini sulit sekali). setidaknya yang paling minimal yang bs mereka lakukan adalah memperkaya khasanah aransemen mereka agar elemen2 lagu seperti yang telah dibahas diatas tidak terpaku pada hanya satu atau dua style saja (misalnya soul dan funk saja). jika diteruskan dengan pemahaman seperti ini, dengan terus berkreasi, sekaligus meningkatkan skill bermain tentunya, malik boleh jadi menjadi suatu band yang benar2 bs membanggakan buat indonesia di masa datang karena dua hal yang sama baiknya - dalam menginterpretasi genre idolanya dan dalam kekreativitasan meramu karya2 yang benar2 unik dan baru.

Social Climber: A Critical Analysis

December 11th, 2006 by gotahouseyfeelinonit

       Beranjak dari sebuah diskusi yang terjadi sekitar seminggu yang lalu, gw tergerak pada kesempatan ini untuk mengutaraka sepatah dua patah pemikiran mengenai sebuah istilah yang disebut dengan social climber.

      Gw bukan ahli mengenai social climber sehingga gw merasa tidak cukup kompeten untuk mendefinisikannya secara formal ala buku2 textbook perkuliahan. Yang gw tau dan pengen gw sebarkan adalah sebuah contoh nyata dari apa yang seorang social climber lakukan yang berasal dari pengamatan gw. Meskipun cuma contoh, tapi contoh inilah yang memicu gw untuk menulis tulisan ini. Simak situasi berikut ini yang menurut gw sangat menarik:

Seorang clubhopper di suatu kesempatan pada sebuah dj event mencoba, dengan agak memaksakan diri, untuk masuk kedalam foto2 yang dibuat oleh para fotografer majalah2 lifestyle ternama di ibukota, padahal tidak satupun anggota dari rombongan yang difoto fotografer mengenal si clubhopper ini dan tidak juga para fotografer berniat, atas alasan profesional, untuk memfoto sang clubhopper dari awalnya. Dengan kata lain si clubhopper "curi-curi" atau "numpang" untuk ikut sesi foto orang lain.

      Dengan mengasumsikan bahwa majalah2 dimana para fotografer bekerja sudah diketahui secara umum dan rombongan yang difoto oleh para fotografer juga bukan rombongan orang2 biasa, analisa gw tentang tujuan si clubhopper melakukan hal seperti diatas adalah sebagai berikut:

si clubhopper ingin memastikan kehadiran foto2 dirinya berdampingan bersama rombongan "istimewa" (yang tentunya menurut si clubhopper bukan hanya sembarang rombongan) di artikel2 di majalah2 tempat para fotografer tersebut bekerja (yang tentunya menurut si clubhopper juga bukan sembarang majalah).

      Pertanyaannya sekarang adalah tinggal: siapa sebenarnya rombongan "istimewa" itu yang didomplengi si clubhopper tersebut? artikel2 apakah sebenarnya yang ingin "dimasuki" oleh si clubhopper ini? dan, majalah2 manakah yang akan memuat artikel2 ini? Jawaban dari pertanyaan ini diberikan oleh insider gw. (Gw berterima kasih sebanyak2nya pada nara sumber gw ini). Beliau berkontribusi dalam menunjukkan di artikel2 seperti apakah foto2 itu akan muncul dan, yang terutama, menunjukkan dan menjelaskan tentang: rombongan orang2 "istimewa" yang ditumpangi oleh si clubhopper; dan majalah2 "istimewa" tempat artikel itu dipublikasikan.

      Menurut nara sumber gw itu, artikel2 yang dimaksud adalah artikel2 yang bersifat dokumentasi "people and current events" atau semacamnya, yang biasanya hanya memuat sedikit tulisan dan lebih banyak foto2 orang2 tertentu. Orang2 tertentu ini adalah rombongan2 istimewa yang di masyarakat yang kerap disebut "orang2 penting". Majalah2 tempat artikel2 ini berada ternyata juga tercakup dalam suatu kelompok majalah2 istimewa yang kerap diistilahkan dengan istilah "majalah2 penting".
      Meskipun gw harus mengaku bahwa ini bukan pertama kalinya gw mendengar istilah2 seperti ini disebutkan oleh orang2 - bahkan gw sendiri sering kali menggunakannya - pada kesempatan ini gw tergerak untuk melakukan analisis lebih dalam terhadap istilah2 ini dan terutama melakukan analisis pada hubungan antara istilah2 ini dengan perilaku yang menurut gw menarik (baca: aneh) yang dilakukan oleh si clubhopper tadi. Pada akhirnya gw cuma pengen membuktikan hipotesis gw bahwa si clubhopper ini just wasting time.

MAKSUD DAN TUJUAN

     Jika memang social climbers kita sepakati aja disini (salah satu jenisnya) sebagai orang2 yang ingin menumpangkan foto2 dirinya bersama "orang2 penting" di "majalah2 penting", maka yang menjadi main question gw dalam tulisan gw ini adalah: mengapa menumpangkan diri bersama "orang2 penting"? dan mengapa menumpangkan diri di "majalah2 penting"? dan sebenarnya "penting" itu apa? apakah sama dengan makna kata penting yang kita pahami?

       Pertanyaan2 diataslah yang akan gw coba analisa di tulisan ini. Pada akhirnya gw pengen mengambil suatu pernilaian: apakah si clubhopper melakukan suatu tindakan yang masuk akal dan tepat? dengan kata lain, apakah "penting" yang si clubhopper anggap penting itu adalah penting yang make sense, sehingga menjustifikasi keefektifan tindakannya yang menurut gw aneh itu ("numpang" di foto2 orang untuk nongol bersama2 orang2 itu di suatu artikel di majalah)? Yok, kita liat jawabannya bersama2.

INTRODUKSI

      Jadi social climber tuh sebenarnya apa? kalo dari arti langsung kata perkatanya aja sih: pendaki sosial, penjajak sosial, dsbnya. tapi untuk definisi formalnya gw memutuskan untuk tidak mendefinisi. Selain gw yakin pengertiannya mudah dicerna, menurut gw juga lebih baik prosesnya jika hakikat dan karakter istilah ini dimengerti sendiri dalam hati dari ciri2 khasnya dibawah.
      Ada feature pertama dari seorang social climber yang gw merasa mesti dijelaskan sedini mungkin: social climber itu tidak bisa diidentifikasi oleh pihak kedua, ketiga, atau berapapun. apakah seseorang adalah seorang social climber atau bukan pada hakekatnya hanya sang yang bersangkutan sendiri yang tau. Orang2 luar ketika menjudge apakah seseorang adalah social climber atau bukan hanya menggunakan dasar perilaku dan logika umum (common sense) saja. Sebab dari kesulitan ini adalah predikat social climber sendiri muncul dari sebuah hal yang abstrak yaitu niat atau motif atau intention sang pelakunya. Dalam arti: seseorang adalah social climber karena dia berniat untuk climb socially. Dia, dan hanya dialah, yang tau niat tersebut.
      Social climber sebenarnya bukan hal yang aneh karena pada dasarnya setiap orang ingin meningkat tahap sosialnya (menurut Maslow, salah satu kebutuhan manusia adalah apresiasi dari sesamanya/dunia sosialnya), namun akibat evolusi kehidupan metropolis, muncul penyempitan istilah social climber. Pendek kata, social climber yang dimaksudkan di tulisan ini adalah social climber yang melakukan hal seperti si clubhopper diatas. Untuk lebih mengasosiasikan social climber mana yang gw maksud tanpa gw harus mencoba mendefinisikan, social climbers seperti ini biasanya: media-interested dan pushing circumstances. Dengan kata lain: tertarik pada media dan memaksakan keadaan. Karena sifatnya yang tidak natural dalam penjajakan sosialnya seperti ini, istilah social climber yang baru ini hasilnya lebih bersifat konotatif daripada denotatif.
       Mengapa seorang social climber ingin menjadi seorang social climber, tepatnya berperilaku seperti yang digambarkan tadi? Alasannya bs bermacam2. Seperti yang sudah diungkap oleh informasi dari insider tadi, jawaban pertanyaan ini ada hubungannya dengan kata yang berbunyi "penting".

PENTING

       Kata sifat yang mengalami penyempitan makna ini kini adalah istilah yang biasanya melekat pada kata2 benda tertentu. "orang penting", "media penting" atau "tas penting" adalah beberapa contohnya. Menjadi "orang penting" adalah suatu hal yang diinginkan oleh para social climber. Frase baru ini lebih baik dijelaskan definisinya dengan contoh2 berikut. Contoh2 ini menggambarkan pandangan pragmatis walau naif tentang "orang penting" dari kacamata social climbers. Seseorang yang "penting" biasanya menikmati keuntungan2: masuk ke event2 ibukota dengan cuma2, diundang, bahkan dibayar untuk datang, umumnya karena asosiasinya dengan media, apakah karena dia adalah pelaku media atau karena dia sering menjadi objek media (contohnya selebriti). Seseorang yang "penting" sering menjadi "talk of the town", umumnya awalnya karena disulut oleh media juga. Seseorang yang "penting" sering disorot media sehingga menjadi trendsetter lifestyle di masyarakatnya. Di benak seorang social climbers, menjadi "orang penting" itu enak sekali.
       Dapat dipahami dengan mudah mengapa menjadi "orang penting" itu menarik sekali bagi social climbers. Fasilitas2 yang cuma2 hanyalah satu alasan kecil untuk mereka. Yang lebih besar adalah rasa prestise yang terlibat didalamnya - rasa dikagumi dan dihormati orang lain. Sayangnya, yang kurang dipahami oleh social climbers adalah adalah bagaimana perjuangan si "orang penting" menjadi "orang penting" at the first place. Tepatnya, yang tidak dipahami mereka adalah proses. Dan proses menentukan makna.

PROSES

       Ketika seseorang menjalani proses, makna yang didapat dari orang tersebut dari proses itu bertambah. Semakin panjang dan berliku2 proses, semakin dalam maknanya. Ketika seseorang menjalani proses belajar misalnya, keletihan2, pencapaian2, dan pembelajaran2 dalam proses belajar itu menambah makna dari proses tersebut. Contohnya proses membaca: jika pada awalnya, membaca hanya maknanya membaca, pada akhirnya, membaca dapat dimaknai hal2 sebagai berikut: penerusan peradaban manusia, pencarian jati diri dan kebahagiaan, atau mungkin juga usaha stimulasi otak atau lain2nya. Makna semakin besar sejalan dengan proses yang semakin panjang.
       Proses yang semakin panjang  berarti resources2 yang terpakai semakin banyak. Dalam ekonomi, ini berarti oportunity costnya juga makin besar. Dengan kata lain orang semakin rela untuk mengorbankan kepentingan2 yang lain demi proses tersebut yang sedang dijalankan. Pengorbanan ini memberi rasa gambling bagi orang tersebut, sebab output dari proses tidak pernah jelas. Rasa gambling dan spekulasi dan unpredictability memaksa orang untuk belajar, untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan dan meminimalisasi resiko. Semata2 dalam perjalanan belajar inilah, orang tersebut meningkat kualitas individualnya.
        Orang yang memang penting telah menjalankan proses. Proses yang dijalankan membutuhkan waktu dan pengorbanan resources. Proses yang dijalankanlah yang mendidik dan meningkatan kualitas seseorang. Proses itu pulalah yang menjadi tonggak eligibilitas untuk disebut sebagai "orang penting". Bukan langkah2 instan yang terlalu terburu2, dan tidak mencapai esensinya. Dunia tidak pernah terjadi secara instan; kata Aristoteles: "nature abhors discontinuities".
Social climbers yang tidak memahami pentingnya proses dan terjebak dalam pemikiran2 pendakian sosial secara instan akan menghadapi sebuah blunder yang tidak ada ujungnya. Salah satu dari cara2 yang instan tersebut - atau seperti yang gw istilahkan di awal dengan frase berbahasa inggris: "pushing circumstances" -  adalah seperti perilaku si clubhoppers di awal tadi.
        Selain "orang penting", ada satu elemen lagi yang krusial bagi social climbers dalam pendakian sosialnya. Elemen ini adalah media.

MEDIA

       Media seperti kita tau adalah majalah, televisi, radio, internet, dll. Seperti artinya, media hanyalah sebuah perantara yang berfungsi untuk menyuarakan informasi ke khalayak (baik umum atau tertutup). Meskipun ada fungsi yang tak kalah penting juga yakni media sebagai sumber hiburan, media di tulisan ini akan dibahas sebagai elemen yang identik dengan penyebaran informasi.
       Yang sering dilupakan oleh kita tentang media adalah proses subjektif dan motif profit-oriented yang terlibat didalamnya. Kita sering lupa bahwa ada jutaan informasi yang layak yang datang ke meja media setiap harinya dan media memutuskan "yang mana yang penting dan yang mana yang tidak penting" selalu dengan subjektivitas pribadinya. Kita juga sering lupa bahwa media membutuhkan profit, seperti layaknya perusahaan2 yang lain, untuk terus hidup dan berkembang. Karena inti produksinya sebenarnya adalah pengemasan dan seleksi berita dan produksi bertujuan untuk menghasilkan profit maka media menyeleksi dan mengemas informasi yang akan ditampilkannya berdasar pada profit making intentionnya. Dengan kata lain informasi yang terseleksi adalah informasi2 yang mampu menghasilkan profit2 yang diinginkan. Baik subjektivitas dan motif profit diseimbangkan oleh faktor ketiga yaitu etika jurnalisme. Ketiganya membentuk kutub2 yang saling tarik menarik, bertempur memperebutkan posisi yang dominan.

TIGA KUTUB

       Setiap organisasi media, seperti seorang individu tunggal, memiliki subjektivitas pribadinya. Ini biasanya disebut company policy-nya. Subjektivitas pribadi berfungsi yang utama untuk memberikan identitas pada organisasi. Tanpanya sebuah organisasi media kehilangan identitas, hanyalah clone dari organisasi2 media lainnya. Subjektivitas pribadi organisasi media banyak sekali berpengaruh dalam proses seleksi informasi yang akan disebarkan oleh sang media.
        Media juga harus menghasilkan revenue yang melebihi cost2nya. Ini karena media adalah organisasi profit. Dalam mencapai ini, sebuah organisasi media dengan organisasi media lain bersaing dalam basis packaging dan pemilihan berita walaupun isi beritanya sebenarnya sama saja. Pada suatu titik dalam proses produksinya, seorang manajer organisasi media akan bertanya: "berita manakah yang paling profitable?"
       Kedua gaya2 tadi akan diseimbangkan oleh etika2 jurnalisme, yaitu tonggak idealisme dasar yang membawahi semua aktivitas jurnalisme seperti media. Gontok2an kekuatan antara etika jurnalistik yang murni (dasar idealisme pembentukan media), company policy (tekanan untuk membentuk identitas unik) dan profit-making intention inilah yang akan menentukan berita mana yang masuk.
       Implikasi dari gontok2an ketiga kekuatan diatas contohnya adalah sebagai berikut: jika suatu kali ada berita yang secara etika jurnalisme lebih baik (misalnya lebih berhubungan dengan perbaikan kehidupan masyarakat umum), berita ini dapat "dikalahkan" oleh berita yang lebih cocok dengan company policy atau berita yang lebih menawarkan potensi keuntungan.
Dengan kata lain, pada satu atau lebih kesempatan, subjektivitas pribadi dan profit akan menang atas etika jurnalisme. Akibatnya nilai2 jurnalisme yang etis seperti keseimbangan pemberitaan dan orientasi pada masyarakat umum akan terabaikan.
       Pendominasian kekuatan profit-orientation atau kekuatan company policy diatas kekuatan etika jurnalisme yang menjadi dasar jurnalisme media sebenarnya dapat dikatakan wajar karena memang organisasi media bukanlah entitas non-profit. Karena alasan ini, dinamika2 pergeseran kekuatan etika jurnalisme ke kekuatan profit orientation harus dimaklumi. Namun yang disayangkan sebenarnya adalah di era dimana persaingan bisnis semakin kuat seperti sekarang ini, organisasi media semakin "terpaksa" untuk memenangkan kekuatan2 subjektivitas pribadi dan profit-making orientationnya daripada kekuatan etika jurnalismenya demi mendapat secuil margin revenue yang lebih tinggi dari saingannya. Efek dominonya organisasi2 media semakin berorientasi pada penciptaan branding untuk menguatkan citra company policynya di benak masyarakat dan cara2 pengumpulan keuntungan sebesar2nya daripada berkutat pada fungsi2 yang memberikan manfaat jurnalisme yang benar2 positif pengaruhnya pada masyarakat.
        Motif pengumpulan keuntungan sebesar2nya menciptakan organisasi2 media yang berorientasi pada iklan dan sumber2 keuntungan lainnya dibarengi penorehan citra organisasi yang sangat kuat di benak orang2. Media2 dengan brand yang kuat dan income-fanatic seperti inilah yang mendorong terciptanya istilah "media penting" di kalangan para social climbers.

MEDIA PENTING

        "Media penting" dengan image (citra diri) yang sangat kuat dan iklan-oriented ini menjadi elemen pendorong takasatmata (undercurrent force) di masyarakat. Akibat brand mereka yang menonjol di masyarakat yang diikuti oleh loyalitas yang timbul karena branding dan marketing yang kuat, ditambah dengan seringnya iklan yang dapat memberi ilusi pendapatan yang besar2an di mata masyarakat, "media2 penting" ini mendikte apa2 saja hal yang "penting" bagi pemirsanya melalui artikel2nya. Apa2 yang muncul dan hadir pada laporan mereka seolah langsung mendapat cap "penting" tanpa dipertanyakan lagi, seperti mandat penuh untuk menentukan selera pemirsanya. Bagi social climbers yang sedang mencari wahana untuk melakukan pendakian sosial mereka,  setiap artikel dalam media2 tersebut menjadi sangat berharga sebagai sarana untuk peningkatan status sosial. Artikel2 ini menjanjikan predikat dan prestise yang mereka cari2, yang cukup penting untuk membuat sang social climbers menghalalkan segala cara agar dirinya dapat terliput dan terpampang fotonya. Jika artikel yang muncul adalah kehidupan dan lifestyle para socialite ibukota misalnya (walaupun gw baru menyadari sedemikian gamangnya sendiri makna dari istilah "socialite" yang tersebut diatas), maka ikut masuk/terliput dalam foto2 para socialite yang sedang menghadiri suatu event di suatu tempat di ibukota menjadi suatu hal yang diamini sebagai alat untuk melangsungkan social climbing. Social climbers lupa bahwa "penting"nya organisasi2 media "penting" yang mereka pilih sebagai wahana mereka untuk melakukan social climbing sebenarnya adalah akibat dari brand yang kuat beserta iklan yang banyak, bukan berbasiskan etika2 jurnalisme murni yang seharusnya menjadi basis media. Pemilihan berita2 yang berdasarkan company policy dan profit-orientation yang bertujuan untuk hanya  menghasilkan kuatnya brand dan besarnya keuntungan seperti inilah yang sebenarnya tidak bs langsung dikorelasikan dengan kata penting yang sebenarnya.

PENTING YANG SEBENARNYA

        Pada intinya, kata "penting" yang berhubungan dengan organisasi media yang sang social climber rujuk sebagai "media penting" tersebut hanyalah sebuah "penting" yang ilusif. Yaitu "penting" yang muncul dari: 1. kuatnya brand organisasi media dalam benak masyarakat dan 2. perilaku profit-fanatic organisasi media yang tercermin dalam komposisi iklan yang menonjol dan kecondongan konten media kepada hal2 yang profit-potential-nya tinggi.
      Lantas pertanyaannya, mengapa brand yang kuat dan keuntungan tidak bs dikatakan penting? Pertanyaan ini akhirnya membawa kita pada pertanyaan yaitu bagaimana kata "penting" itu seharusnya didefinisikan. Apa yang membuat penting itu penting? Dalam menjawab pertanyaan ini, seperti biasanya ketika menghadapi istilah yang baru, gw tidak akan secara formal mendefinisikan kata "penting". Yang akan gw lakukan adalah mencoba mengasosiasikannya dengan konsep2 yang lebih mudah dipahami. Karena penting itu adalah predikat yang diberikan orang kepada sesuatu benda, maka penting sangat erat hubungannya dengan orang. Orang2lah sang hakim utama apa yang penting. Karena keadaan orang yang berbeda2, penting bagi satu orang belom tentu penting bagi orang lain, begitu juga penting di satu tempat belom tentu penting di tempat lain karena orang2nya memiliki kondisi yang berbeda2. Walau begitu, di satu komunitas, ada hal2 yang penting bukan bagi satu, atau dua orang saja tapi bagi banyak orang.  Semakin banyak orang yang menganggap suatu hal penting, maka hal tersebut semakin penting dan keabsahan predikat pentingnya semakin teruji. Sebaliknya jika hanya satu orang yang menganggap suatu hal penting, maka hal2 tersebut tidak bisa dikatakan penting. Begitulah konsep pertama yang gw asosiasikan dengan kata penting, yaitu "untuk orang banyak".
Konsep kedua adalah mengapa sebuah hal bisa menjadi penting bagi seseorang. Jawabannya bisa terlihat dari apa kontribusi hal tersebut dalam kehidupan seseorang. apakah hal tersebut memberinya resources? atau apakah hal tersebut meningkatkan produktifitasnya? yang pasti, hal yang penting adalah hal yang bermanfaat bagi kehidupan pemakainya. Inilah konsep kedua tentang kata "penting" yang gw gunakan, yaitu "bermanfaat".
Dari kedua konsep, gw dapat menyimpulkan bahwa penting itu ada hubungannya dengan bermanfaat untuk orang banyak. Hal2 yang sifatnya tidak seperti ini dapat dengan aman gw katakan tidak penting. Berhubungan dengan media, ada dua lagi konsep yang harus berhubungan dengan kata penting, yakni edukatif dan pemberitaan yang seimbang. Ketiganya, jika dirangkum, menjadi: edukatif, dengan pemberitaan yang seimbang, dan bermanfaat untuk orang banyak. Media dengan karakteristik seperti inilah yang menurut gw patut mengemban predikat "penting".
        "Penting" seperti yang dijelaskan diatas pada dasarnya berkubu dengan etika2 inti jurnalisme, karena sifatnya yang menonjolkan edukasi, pemberitaan yang seimbang, dan kontribusi bagi masyarakat banyak. Ironisnya disini adalah menguatkan kekuatan di kubu etika jurnalisme berarti mengurangi prioritas di dua kekuatan lainnya, yaitu company policy dan profit-making oriented. Organisasi media yang menganut komposisi kekuatan yang lebih berprioritas pada etika jurnalisme  inilah yang semakin jarang ditemukan di era yang kompetitif seperti ini. Walaupun semakin sedikit jumlahnya, namun apa2 yang ditampilkan oleh organisasi media ini memenuhi kriteria sebagai sesuatu yang penting dalam arti yang sebenarnya: dalam makna edukatif, berimbang, dan bermanfaat bagi orang banyak. Organisasi2 media seperti inilah yang seharusnya diproritaskan social climbers dalam penjajakan jenjang sosialnya.

KESIMPULAN

       Para social climber yang telah mengkaitkan dirinya dengan "orang2 penting" dan "media2 penting" secara sengaja dalam pendakian sosialnya tersebut pada intinya telah menjalani 2 kesalahan. Yang pertama adalah perancuan dalam memahami pentingnya proses (tepatnya dalam mengenali proses panjang yang terjadi yang membuat seorang yang penting "penting"). 2. Perancuan dalam mengenali media mana yang benar2 penting dan media mana yang hanya "penting" dalam pendekatan mereka untuk social climbing. Akibat dari kedua kesalahan ini yang fundamental ini, pencapaian2 mereka dalam usaha untuk social climbing menjadi hampa dan tidak berarti apa2. Pencapaian mereka hanya sebatas penampakan yang fana dan sangat temporer saja. Ketika dikorek dan dibahas ke dalam sedikit saja, akan tampak bahwa sebenarnya para social climber tidak sukses dalam climbing socialnya, atau dengan kata lain, mereka tidak menjadi lebih penting dari sebelumnya. Orang2 yang muncul di foto2 artikel suatu event ibukota misalnya, disamping para rombongan socialite dan tokoh2 ibukota, akan cepat dilupakan orang karena mereka tidak melakukan hal2 yang benar2 bermakna bagi orang banyak. Dan yang lebih parah lagi, tidak ada pembelajaran dalam proses menjadi penting mereka yang instan ini yang dapat mendongkrak kualitas individual mereka. Dengan kata lain, mereka jalan di tempat, membuang2 waktu dan resources untuk sesuatu yang nol yang seharusnya bs mereka gunakan untuk yang lain.

PENUTUP

        Di dunia yang instan seperti sekarang mungkin dorongan untuk mencapai hal secara instan besar. Sayangnya dunia tidak bekerja semudah itu, bahkan, jika dibandingkan dengan masa lalu, sekarang seseorang harus bekerja lebih keras dan cerdas agar dia dapat menjadi apa yang diinginkannya. Di dunia yang kompetitif dan kapitalis ini pula, dorongan untuk mengejar profit terlalu besar untuk dielakkan, akibatnya idealisme dan etika tergeserkan. Orang2, di bawah tameng organisasi2, semakin mendewakan profit dan dividen. Yang masih menjunjung etika dan idealisme semakin langka ibarat batang pohon yang kurus yang tertancap di sungai melawan arus yang kuat. Idealis2 ini sepi dan sendiri, namun kesendiriannya bermakna jauh dibandingkan dengan batang2 pohon lain yang hanyut. Social climber yang sejati mengenali organisasi2 idealis ini. Mereka mengenalinya sebagai sarana untuk meningkatkan jenjang sosialnya, walau bukan cara utamanya. Social climber yang sejati memanfaatkan kualitas individunya untuk memberi manfaat bagi orang banyak, yakni menjadi "orang penting" sebenarnya. Organisasi2 media hanyalah membantu menunjukkannya ke dunia.

Si Gembul Pembawa Air

November 27th, 2006 by gotahouseyfeelinonit

    Di suatu kota kecil yang gersang bernama Anyer hiduplah seorang gadis pembawa air bernama Gembul. Gembul adalah seorang gadis yang sederhana, ceria dan baik hati. Tubuhnya yang gembul itu juga membuat orang2 tambah suka dan sayang kepadanya. Kadang2 orang2 suka menggoda gembul, tapi bukan karena mereka sebal dengan gembul, malah sebaliknya karena mereka pikir gembul itu lucu dengan postur dan tingkahnya yang seperti itu.
    Gembul suka sekali dengan pekerjaannya sebagai pembawa air. Setiap hari dia membawa sebakul penuh air berkeliling kota membagi2kan kepada yang membutuhkannya.
    Meskipun berat, tapi gembul tidak pernah mengeluh. Sepertinya bakul air yang digendong di punggung belakangnya itu untuknya tidak ada beratnya. Sebenarnya Gembul pernah mengeluh satu dua kali, menanyakan mengapa bakul air yang dibawanya ukurannya besar sekali dibandingkan pembawa2 air yang lain, tapi hal ini tidak pernah dia utarakan kepada orang2 lain, apalagi kepada orang2 yang dia bagikan airnya, hanya kepada sahabat2 dan sanak keluarga terdekatnya saja. Kebanyakan waktu pertanyaan2 itu dia pendam sendiri saja, walaupun jawabannya hingga sekarang dia masih tetap tidak tahu.
    Pekerjaan Gembul sebenarnya sangat menjanjikan. Gembul adalah pembagi2 air di sebuah kota yang gersang. Sayangnya ada satu masalah yang tidak gembul bayangkan sebelumnya. Yaitu orang2 di kota yang gersang itu sudah sedemikian terbiasanya dengan kegersangan sehingga mereka sudah terbiasa dengan sedikit air. Sebenarnya mereka butuh banyak air, namun sepertinya mereka sudah lupa pada hal itu. Kesibukan2 mereka dengan pekerjaannya dan karirnya sudah demikian besar sampai2 mereka lupa betapa butuhnya mereka pada air. Gembul sering merasa sedih jika mendapat penolakan2 dari orang2 yang menolak menerima air darinya. Buatnya itulah satu2nya yang paling penting yang bisa ia bagikan namun alangkah pedihnya dia merasa ketika dia menyadari bahwa apa yang penting baginya tidak selalu penting bagi orang2 yang ingin ia bagikan airnya.
    Gembul akhir2 ini sering merasa sedih. Ia merasa orang2 yang tinggal kota yang ditinggalinya ini semakin asing buatnya. Orang2 yang dia temui dan ingin dia bagikan airnya semakin sering menolak. Ia merasa ingin sekali membagikan air itu namun tidak ada yang mau menerimanya. Orang2 semakin sibuk dengan pekerjaan2 yang digelutinya dan semakin lupa akan butuhnya mereka dengan air. Gembul pun kian sedih.
    Disudut kota yang lain ada seorang anak laki2 bernama Roman. Roman adalah anak yang suka mengembara dan suka berpindah2 kota. Kali ini kota yang dia hinggapi adalah Anyer.
    Roman sebenarnya menyukai kota Anyer namun seperti Gembul dia juga kecewa dengan orang2 di kota itu yang sering bertahan dengan sedikit air hanya karena sibuknya mereka dengan pekerjaannya.
    Roman telah sering berpindah2 kota. Perjalanannya dari kota ke kota tersebut memberinya banyak pengalaman. Roman juga kebetulan anak yang suka berpikir dan bertanya. Bakat bertanya dan pengalaman2nya itu memberinya banyak kesimpulan2 hidup yang sangat berharga baginya. Meskipun belom tentu semuanya benar namun ia merasa hidupnya menjadi jauh lebih bermakna dengan kesimpulannya2 itu.
    Pada suatu hari Roman bertemu Gembul yang sedang melamun di sebuah halte busway di kota itu. Awalnya Roman tidak ingin mengganggu Gembul yang sedang termenung sendirian, namun bakul air yang dibawa2 si Gembul pertanda si Gembul adalah gadis pembawa air membuat Roman semakin mengukuhkan tekadnya untuk bertanya kepadanya.
"Sore2 begini, masih banyak airnya mbak?" tanya Roman
"Iya mas, nggak banyak yang mau air lagi sekarang ini.." jawab Gembul dengan nada rendah
"Saya mau" sambil mengacungkan jari telunjuknya di dekat wajah Gembul dan tersenyum kepada Gembul.
    Gembul tersenyum "oh boleh mas, silakan.." dan Gembul pun mengambil sebuah gelas dari samping bakulnya, menuang sesendok air ke dalam gelas tersebut, dan menawarkannya kepada Roman.
    Roman menyambut gelas tersebut, melirik air didalamnya, sejenak menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu menenggak isinya sampai habis. Roman tersenyum puas, lalu memandang Gembul yang tidak lupa membalas senyumnya. Dalam hati Gembul sangat bahagia ada orang yang mau menerima airnya tanpa sungkan2.
    "Perkenalkan mbak, nama saya Roman. Saya tidak tinggal di kota ini, cuma mampir saja. Ingin berjalan2 sebenarnya. Kira2 berkenan nggak mbak menemani saya berjalan2, mungkin sebentar saja?" Roman kemudian bertanya.
    "Hmm mau jalan2 kemana mas? Saya mesti membawa bakul air ini jadi agak berat kalo harus berjalan2 jauh" jawab Gembul.
    "Ga usah jauh2 kok mbak, sekitar sini saja biar saya bisa melihat2 kota" jawab Roman pengertian.
    Gembul tersenyum setuju. Tak lama mereka berdua keluar dari halte dan berjalan menyusuri trotoar perkotaan disamping gedung2 tingginya.
    "Oh ya saya belum tau nama mbak siapa?" Roman bertanya
    "Nama saya Gembul. Gembul saja." jawab Gembul.
    Roman tersenyum mendengar namanya. Membayangkan apa jadinya jika si Gembul diet misalnya. Kemudian Roman lanjut bertanya.
    "..mengapa masih jualan air mbak? Kan orang2 sini sepengetahuan saya tidak terlalu butuh air lagi.." korek Roman
    "saya punya banyak air mas. Entah darimana, bakul air saya ini sepertinya tidak pernah kosong setiap hari. Setiap saya bangun pagi, bakul saya ini sudah terisi lagi dengan air. Besoknya begitu lagi dan begitu lagi. Saya tidak ingat kapan bakul ini tidak terisi penuh dengan air di pagi hari. Saya juga entah kenapa sepertinya tidak bisa tidak membagi air ini mas. Saya senang membagi2 air. Yah seperti inilah saya adanya mas." jelas Gembul dengan riang dan rendah hati.
    Roman mendengarkan seluruh penjelasan Gembul dengan seksama lalu mengangguk memberi tanda ia mengerti. Roman berpikir betapa menariknya gadis bernama Gembul ini, yang punya kelebihan bakul airnya yang tak pernah kering dan kesenangannya membagi2 air kepada orang2 di kota tersebut. Betapa langkanya!
    Sebelum ke kota yang gersang ini, Roman telah mengunjungi kota2 yang lain dan berkesempatan melihat berbagai macam orang2 pembawa air. Dari semua pembawa2 air yang pernah ia lihat, tidak pernah ia lihat bakul yang besarnya sebesar yang Gembul bawa sekarang.  Yang bisa mengalahkan ukuran bakul Gembul itu hanyalah bakul milik orangtua2, yang mereka pakai untuk menyimpan air dan menjaga kebutuhan air keluarga mereka. Roman terkesima melihat ukuran bakul air Gembul. Seolah2 dengan ukuran bakul seperti demikian Gembul sudah cocok menjadi seorang ibu.
    Roman selalu tertarik memperhatikan orang2 pembawa air di berbagai kota2 yang ia lewati. Bukan hanya pada pekerjaannya yang sederhana, namun karena bagaimana orang2 ini telah membuat orang2 disekitarnya merasa lega, segar dan bahagia kembali. Suatu pekerjaan yang Roman pikir adalah yang paling mulia dari segala macam pekerjaan yang ada di dunia ini. Apalagi yang lebih penting selain membuat orang lain bahagia pikir Roman.
    Ada pembawa2 air yang memiliki bakul yang besar, ada yang kecil, dan ada yang berada ditengah2. Dimana pun mereka berada orang2 selalu berkerumun disekeliling mereka. Seolah2 mereka tidak pernah merasa puas akan kehadiran sementara sang pembawa2 air ini. Seperti lentera dan binatang serangga, masyarakat selalu datang menuju pembawa2 air. Mereka selalu diharapkan dan dinantikan kehadirannya. Begitupun pula di kota2 yang orang2nya sudah tidak terlalu perduli lagi dengan sang pembawa air, pasti ada orang2 yang lebih jeli dan lebih seksama yang kembali menyadari betapa pentingnya si pembawa2 air ini. Mereka pun akan menghartakan pembawa2 air ini, meskipun tetangga2 mereka tidak lagi memperdulikan mereka.
    Di sore ini, Roman termenung kembali. Ingatannya terpaku pada pertemuannya dengan Gembul kemarin. Ia mencoba mengingat2 lagi, pernahkah ia mendapati satupun pembawa2 air yang pernah ia temukan sepanjang hidupnya mengisi bakul air mereka? Jawabannya tidak. Sebenarnya siapa pembawa2 air ini tanya Roman.
    Di buku hariannya, Roman mencatat: "hari ini aku telah menemukan rahasia segalanya. Bahwa air yang dibagi2kannya itu adalah cinta, dan sang gadis pembawa air itu adalah gadis yang punya cinta yang besar dan banyak, yang tiada habis2nya dan selalu penuh kembali di hari selanjutnnya. Dia adalah sumur dari cinta, yang mengolengkan keseimbangan2 dunia sehingga dunia bergerak. Dunia perlu dirinya untuk memberi cintanya, dan dia perlu dunia untuk menerima cintanya. Gembul bukanlah orang biasa. Dia dikirim dengan kelebihan luar biasa. Kelebihan cinta. Setiap orang yang disentuhnya akan merasakan cintanya, walaupun mereka merasa tidak perlu atau tidak perduli karena pekerjaan mereka lebih penting misalnya. Namun nanti pada saatnya, mereka akan menyadari sang sumber2 cinta ini, dan menyadari arti pentingnya mereka. Dan menyadari bahwa pekerjaan apapun, mimpi2 keduniawian apapun tidak esensial dibanding dengan cinta. Walau kota yang gersang merasa tidak membutuhkan cinta, namun mereka sebenarnya menutup mata dan hati. Dunia semakin gelap dan pembawa2 air adalah lentera yang membawa kehangatan pada dunia."
    Roman merasa amat bersyukur bisa berkenalan dan tersentuh oleh seorang pembawa air ini. Roman berjanji akan selalu menemani si gadis pembawa air yang selalu kesepian di kota yang gersang ini. Itu janji pada dan demi dirinya dan dunianya. Karena Roman tahu tanpa si gadis yang ceria ini, akan jauh lebih dingin dan sepi lagi dunianya.

inspired by si adek

Music = Home + Friend

November 24th, 2006 by gotahouseyfeelinonit

I think the most important thing about music is the sense of escape. - Thom Yorke

Sometimes i think music for me is more than just collection of albums or, God forbid, just collections of tones with personalities who play it. Music for me is like a home. A place to go back to. A place where you can always fall back on. Retreat from the world and still know that the it will always be there for you. Like its literal counterpart, this "home" also provides a fix place where you can never feel out of place.
    I believe in a saying that says: when you’ve got something to fall back to comfortly, the more calm you will be as a person, especially in the face of all the troubles and problems you have to face everyday. When you have something that holds you in the back in case you fall, you become secure. In case trouble comes, you don’t need to worry yourself too much because at the end you know that there is something, or someplace, or someone with whom you’re sure you’ll always get support, or someone with whom all those trouble can be forgotten. Like a cozy chair you have always used to sleep in since you were a child, when you’re away from it, it became the imaginary idyllic place that stuck in your memory. Deep inside i believe that people will always need this sort of place to survive. They just have to find it for themselves.  For me, i think i have already found it. It’s music.
    Back ago, at times when i was still in college and living in kos, i had a big exam (college students always do, yes i know). I studied hard for it, learnt the older exams, etc but somehow i failed on it miserably. I faced the tough reality when looking at the scores in the students bulletin board in campus. When you realize your feeling and hardwork don’t match the resulting output, you tend to get a confidence breakdown. And thats what i felt at that time. Confidence crumbled and i begin to distrust myself. Any spirit left for study vaporized to the air. I just want to forget it all, at least for a couple of minutes if possible. the only thing i can remember then was my dusty pile of cd collection and my car. I was thinking of running back home, putting my cds to my car’s cd changer and cruise away with my music as loud as possible to nowhere in particular. I wish it to be a reality asap, my heart beats irregularly. As soon as i arrive, i took the cds out, warm the car, and leave immediately. With music blaring hard on my speakers, and the car whoosing away on the pavement, i feel better gradually. The music, the melody, and the groovy beat magic all those bad, depressing feeling out of my system. the intense funkness of some of my deep house cd fired me up into dance mode even if its only in the car. And dance, as some say, with singing, are two of the most primitive way to loose yourself and leave the worldly physics and sufferings.. I feel better immediately. The sun seems to shine brighter. Bandung seems more beautiful than it was a few minutes ago. People and its dynamics seemed very interesting again. Life is beautiful again, like when there were no problems at all.
    Having this buffer for your everyday life is not only good for when you’re having an exam. It also have its advantages when you’re having trouble with your love life. Well at least for me it does. The effect of being broken-hearted by a girl, facing the tough reality that you’re going to be single again after a period of being in a relationship, for me all could be reduced with music. All you need to have is a time completely alone, perhaps for the entire night, to think and contemplate under the lullaby of your beloved music. Then the beautiful harmony of the music will make you realize once again that life is just not that bad. Your sad love story does not mean the end of the world. you know that at least somebody still care about you: God. The fact that He still let you hear these beautiful melodies that propagate in this world He created is the ultimate genuine proof of that.
     Either to face those problems at work or study or to wound the cut from your love crash, music is again again my savior.
     I consider my music collection not just simply a collection of materials. I consider them more like my secret friends. It’s not just the physical objects that matters i.e. the collection of my albums. Because they are just the mediums. It’s the "sensation" that i am looking for. The same strange sensations that had sent numerous philosophers quarreling each other and running to their doctors, asking for headache pills. Sometimes when i listen to these sensations, time seemed to dissolve, location disappers. There are just me and the sensations that are keeping me company. No matter what i do in real life, everytime i put them on, not once have they disappoint me by failing to show up. It seems pretty hard to have nowadays, somebody who will always be there for you whenever you need them. However, apparently this is nothing like my music, because, like true friends, they certainly do appear whenever i need them.

Berlin: A Tribute

October 16th, 2006 by gotahouseyfeelinonit

Jakarta, 17 October ‘06 04:50 AM

It’s almost 3 months since I left berlin and I havent had the decent courtesy of giving the place the proper acknowledgment it deserves. Not least because it is by its own right a great city but more to its lasting influences on me long after I left it.
Berlin captures imagination. Like Aristoteles’ catharsis, it lifts up soul to higher ground. It feels right to live there, among those cozy streets and enchanting old buildings. There are visible things and invisible things. The visible things you tend to forget. The invisible lasts much much longer. The points below expound both one by one.

Transportation
Let’s start from what I considered to be most logical, most apparent, therefore most crucial to be explained the earliest: transportation.
Transportation is about mobility. Human is a mobile creature. It dislocates itself continually. Transportation, ever since human need no longer move on its own feet, only exists to support this basic character of human mobility. The better it is, the more mobile human becomes. The more mobile human becomes the more unimportant mobility becomes, and reciprocally, the more attention human can exert into work – increasing effectivity.
The thing about transportation is it is by itself only a support function. Like logistic, it doesn’t directly add value to any work we have done. But execution at the highest manner in this department is a competency that could well be a genuine source of income by itself. So to say, transportation is common to everyone. Everyone has the problem of transportation. But due to the increasingly tight competition nowadays that demands most problem to be handled with as much resources as possible, down came also the ability to spare much left resources for transportation. Meaning: time is increasingly very limited to accrue to such an ominous and non-value adding function like transportation. Meaning: people don’t have time to stuck in traffic jam or finding vacant spots for parking as much as they used to. Pressure to focus on work (which as apparent have also experience continually increasing degree of specialization) is vast. This tight demand for “as much resources as possible” for work is to fuel productivity, innovation, and cost-saving act which in larger order oftenly just to keep up with the competition in money making world like nowadays. World is tight, and resources are limited, and only people who could squeeze enough resources for the essential ones are the finish-liners. In this respect, the Germans, in this case the Berliners, have this problem quite figured out.
Prooving their age old winning tradition in transportation systems, Germans have set for themselves a record breaking set of minimum margin for time usages in transporting people from one place to the other. Their trains leave in rotation every several minutes, punctually. The transportation user interface is crystal clear, with a digital led display showing up in almost every train and bus station. The options are abundant, from underground train, trams, busses, overground train, etc and most importantly all are equally comfortable. The ticketing system allows total flexibility with numerous amount of type of tickets, either you want a ticket which is in 2 hours basis, 1 day, 3 days, or a week, or even monthly or yearly. All up to you and your most benefiting combination. Ticket check is a lenient, but inspiring, a combination of Germans societies’ plain ethical behavioral pressure and a multitude of random officer checks who enter the passenger chambers, mostly in busy hours. The punctuality needs to be mentioned again. So much punctuality involved in the process, I have come to think that Germans have already consider it just normal part of everyday life, something they took for granted. Planted by the cold and strict punctuality attitude of their forefathers, enjoyed in result by their subsequent generations. So definitive is their punctuality, Germans are known for exactly it. If punctuality is their motto,then their transportation system is their mascot – a true symbol of what it means to live punctual. In practice, what it means to live punctual discloses much more. It means the ability to target your departure and arrival time with little loss of accuracy. It means the ability to make an appointment and not be tentative about the time. It means the ability to arrange your whole day activity on the chronological basis far far before the actual day. It means increased integrity for being a person true to to his word of the time of appointment. It means increased dependability from others when it comes to the frame of time. And so much more. In short, punctuality and efficient transporting transcends mere departure and arrival of a man. It changes the attitude of society.

PS: phewh..after 3 months, i finally write again.

Jakarta, 17 October ‘06 05:00 PM

Art

As one of first world’s major capitals, berlin is inseparable of art (it seems there is almost a rule that being a major western capital requires itself to be a center for art). Borrowing its earliest architectures from its Roman Catholic-infused culture back in the days when it was part of the Holy Roman empire under Charlemagne, even before Prussia formed, Berlin could not avoid world’s attention as another one of Romans (and therefore Greeks) manifestation of architectural superiority. Buildings with tall pillar, ridiculously high ceilings, and sculptures no less curvaceous than Rome’ or Paris’, let’s just say Berliners have an apt for grandiose Baroque architecture among anything else. Berliners love its building to be a rock solid proove of their taste in architectural art. And that’s only from the point of view of architecture.
Let’s turn into plays. Berlin has staged plays for hundreds of years. Contemporary, classic, you name it, berlin has it. This is where directors, writers flourish. This is where all sorts of genres are accepted. Where all concepts are accepted. Where all books are accepted (except, and this is very exceptional, that of Hitler’s: Mein Kampf). Berlin’s operahouse is abundant, so do its theatre. Their legends provided the first tracks. Surely names of poet like Goethe and Schiller guaranteed to provide creditability. There was a stir quite a few weeks ago, when Deutsche Oper, which was in Berlin, refuse to stage a play that incorporated the picturization of the prophet Muhammad only to omit the possibility of another Muhammad comic-type incident. A simple sign how the performance of this opera house is carefully watched and modeled by so many other fledgling opera house all over the world.
Music, music, music, my favorite subject. Probably not the jazz capital itself, but certainly bloomed all the way from during the 1920s Berlin as the essential location to catch the latest jazz scene. Not to forget a little significant fact that Berlin also is the capital of a nation that is full of ridiculously famous classic musician. Name springs: Beethoven. Bach. Wagner. Enough names to shook the world. Rock establish Berlin as an essential city of European music when U2 recorded Achtung Baby and Zooropa and devote the song Zoostation as a tribute to the name of a very familiar train station in Berlin. There was a sense of sadness here in Berlin, an irony in the air, when musician records amidst a city divided by half into two very different living circumstances. A set for inspiration, a reminder, a silent storm.
Museums, a favorite chapter of myself. The home of plethora of art objects. A home of contemplation. A home for the thinker and feeler. And Berlin has abundant of those. World class. Rotated, renewed, and often borrowed to remain fresh and exciting. A deep huge well of hidden artistic energy for those who seek it. Among the many place I like to visit in Berlin perhaps museums are my most favorite. The fact that for only 8 or so euro you can get a world class soul-shaking experience is just too darn good to pass and too darn stupid to be ignored. I like to go to museum essentially alone. No disturbance. Just me and my thoughts. Searching for the “Significant Form” of Clive Bell, looking at Will and Ideas which Schopenhauer spoke about, making sense of the pure Idea of which art as imitation is built as Plato once described. Dividing the Matter and Form, or the Expression and the Impression or the Means and Ends. There are endless transfigurations of soul that could happened inside a museum. It’s just such a waste when these possibilities are not fully exploited. Just like a catharsis, museum lifts up soul to purer state, closing it to it’s creator, God, if I haven’t sound Platonic enough.
Going from one room to the other, watching Peter Paul Rubens’ paintings in one and Caspar David Friedrich’s in another is such a breathtaking adventure no less adrenaline pumping than going on raft boat on a savage river. When the devil is in the detail, then inside these houses of art live many many hideous monsters of unthinkable stature. You keep wanting to go ahead, you keep wishing there is something more beside that corner, you keep wishing you could never get tired.
Berlin has them all. Simply said, it is now one of the major home and keeper of arts. It contains a lens to the past, a womb for the future. And all are at the fingertips of Berliners. What lucky inhabitants!

Jakarta, 19 October ‘06 01:00 PM

Environment

This one is about logic in city-building. as city residents would firmly agreed, a city is a hard place to live in, it breathes complication, almost in every aspect imaginable. im sure you yourself can give long and winding testimonial to this fact. social, economy, law & order, cultural complication, etc, you name it. so the basic rule is dont make it any more complex.. make it simple, logical, and efficient. when it comes to city planning (or the subject of the study planology as some might refer) the criteria adds also to humanly comfortable, natural, and when possible, aesthetic. its not that much  a problem as these are fair and logical requirements, but look at jakarta and prepare to be apathetic to even the smallest suggestion of anything fair and logical. Berlin is one of the city which i consider follows the previous fair and logical sort of approach in its development: a city organization that is simple (at least from the skin), logical, efficient, comfortable to live in, close to nature, and most of all pretty, if beauty sounds way to flattering. all of this would mean nothing if its only just a way to pinpoint elaborately the pathological situation jakarta’s planology has. there is a more real, urgent, and fundamental impact that a good city planning can deliver. planology affects citizen, both physically and mentally. a course in planology should definitely affirm this. i would argue even as far as city planology could affect the culture of a population. it is a system that thrive by reciprocative interaction back and forth between city’s physical organization and the citizen. a continual dialogue you might say between the created and the creator. city planning is affected by the citizen and in turn city planning affects citizen. it affects the way they live, the way they work, the way they spend their spare time, the way they involve in any activities that involves usages of spatial area (which is in fact almost everything).  its because city planning is a system in which citizen lives. a system of their habitat. an organization of their lair. an order for their home. and if i may boldly suggest, home is where it all started. when home is ordered, then everything would run well. home is the base. and the base needs to be solid for the top to blossom.
the direct impact would not be as easily apparent, if you havent live or don’t live in jakarta. if you have live or perhaps presently living in jakarta or any other developing countries major cities, then things are pretty crystal clear and the following descriptions are unnecessary, since the direct impact of having good city planning is utterly obvious, given jakarta’s wretched city planning. however, for those of you who have not or are not living in jakarta or any third world country cities, then by all means please read on. so to continue, perhaps the only real clue to a city planning success is perhaps you tend to spend less time on searching, for example, an address, or, in other example, you find it easy to study the city’s map since the arrangement in some way looked logical to you. other clues are: perhaps you tend to have a favorite spot in the city which is unlikely, for example it is not in a business district, nor in a government district, nor even in a shopping district, perhaps it is not even inside a building at all, but perhaps simply an external area of the city that you consider pretty, pleasant, or simply comfortable enough to spend time in, like Tiergarten in Berlin or Central Park in New York. more subtle clues (of course still in the perspective of persons who never have to live in third world cities e.g. jakarta) are: you tend to enjoy walking around town, and i mean here walking literallly, by foot. you find walking around sightseeing gratifying. you tend to have a favorite spot somewhere in the city, which is not internal but external, looking out to city scapes, and etc.
in short, the sheer subjective pleasure and enjoyment of living in this city is the most important clue of all, however least measurable this clue might be. it is the true indicator of the success of any city planners’ work.
i find myself often intentionally dropping myself down in Friedrichstrasse station just to make a long walk through Dorotheenstrasse starting at the canal-end part of the station all the way past the Museum Island and ends at Hackescher Markt. just strollin on foot this way, with music on my walkman, looking by as building after building changes beside me, is a recreation on its own. so important and effective and economical this recreation was for me, i do it whenever im feeling not in a good mood, or wanted to refresh from school, or whenever i have a spare time and nowhere to go in fact. its just that feeling nicety thats there to justify all this. just to step on the concrete, smell the damp air coming from the river canal, watch people dining or convening outside at the roadside tables of the 12 apostles restaurant, enjoying the details of the museum buildings as i walked past it, which includes a short but meaningful observation to their spatial composition relative to each other and other city infrastructures, such as the railtracks, the river, and the roads, they all very interesting to me. and what perhaps here might eventually exposed me as a narcissist - and i don’t mind at all - this simple act of strollin’ around the city makes me feel very urban. i feel that i have truly became an urban citizen. a habitator of the city. a proud habitator of a city that is pleased to be a part of it. such a simple activity like this could easily refresh my senses and give inspirations. no wonder i thought so many artists, for example, took hardships to move to a city, Paris for example, as their preferred place to live and dwell inspiration for their works.
when your like how your city looked, youll get instant inspiration without the need to pay anything.. just a mere glance over the buildings to a gold-and-blue late afternoon cityscapes when the citylights started to turn out could be equivalent with watching an expensive play or listening to inspiring music. then who could say inspiration is expensive?..

Jakarta, 28 October ‘06 01:00 PM

Culture

you may recognize a berliner from the disctinct street style he/she is wearing. mixing so many different aspects: colors, motifs, fabrics, lines, images, berliners can do little arguing when they are described by everyone else as extremely unique. the span of mixture knows no regulation too. the bright orange can be easily paired with light green one. the plain can be matched with the stripe. therefore, a feel of avant-garde-ism emerge. more following into tradition than breaking the rules actually. berlin has always breed some radical thoughts over the years through its variety of fascinating citizen.

do you know that the Berlin mayor is gay? a friend of mine sort of cherish him to say the least (ya gak ki?). do you know berlin (and germany) has legalized homosexual marriage? do you know berlin has a special gay parade under the name of Christopher Street Day? yes, when it comes to freedom in the department of human love and relationship, berlin is the flagbearer. the society just seems to absorb that, far far less conventionally than the other cities. there’s a certain "go ahead, make my day" type of attitude in berliners everytime any part of their society experimenting with something new. not too surprising when one realizes that berlin is inherited with so much desire to be free. a occupation and division of their nation for 44 years that centered in this city is one very good explanation why.

freedom in mixmatching different elements, sexuality not only occur in fashion or marriage, but also in music. sad as it is say that majority of germans are still, over the years, loooove 80s music, the fact that numerous minorities of musically sophisticated germans have born and rise cannot be denied. in majority influenced by the general wave of the post-modern, these people mixmatch relentlessly differing elements, differing sounds, differing beats, and even extremely differing tempos, creating in the process almost abstract form of art that allows only oneself to contemplate and understand. little labels sprang up here and there. some are musically very eclectic. some cherish the birth of electronica and its cross over into other classic genres. labels like mole listening pearls, jazzanova compost, spv, stereo deluxe takes jazz combined with groove into unprecedented heights (and widths). there’s a jazz in everything and everything in jazz, with the head tilted toward groove. a sudden and celebrated attack into the world of bedroom djs/producers and computers where a kid with a computer could be a full-fledged artists, where synthesizers and mixers are made more and more affordable by the country’s modern industrial economy. combined with the apt for rulesbreaking of the berliners, berlin becomes the crib of fascinating and killingly creative inhabitants whose corners after corners contain surprises after surprises.

do you know berlin hold almost regularly parades, festivals and fairgrounds all over the year? remember love parades, world culture festivals, shows held in public places? these events took the spirit of berlin into the clearest message: that they like to party. party in the wide sense: a celebration of communal gathering. people claimed they are an individual society but the truth is they have strong social genes. individuality but also communality. to come in full circle on the support, not only are these events highly favored by the citizens but also fully endorsed by berlin city government (of course when the head of the government is gay and the stereotypes of gay are highly sociable person, then who could disapprove).

berlin is a metropolitan city with an attitude, a style, and a way of living. its style is not for comparison since its so distinct, but for me they are truly something to learn and to reflect on. the bottom line word is freedom. specifically freedom to create, experiment and socialize. as the pressure to be competent in a competitive environment is getting harder and harder, the need to relax and experiment and to individually find the most suited things in life grow stronger and stronger. in this respect, the city is expected to accomodate that. and berlin does, effortfully and almost naturally.

Jakarta, 8 November ‘06 08:00 AM

So, What’s Missing?..

A time ago in berlin, after a long exhaustive discussion over why berlin is a good place to live in, a friend summed it up and attacked with a question finale: "so.., why don’t you live here instead?.."
even though just the prospect of living here is entirely delicious to imagine, one flaw (or two) still hover around Berlin. one is the lack of what so called "your food". second is the lack of "your people".

Whether i like it, or approve of it or not, i was born a Padangnese. Inherited with so many ethnical stereotypes that people sometimes so violently address to me, i found none of them is so factfully right compared with this: Padangnese love padang food. and that means i love padang food. none of this fact would inhibit me in living in Berlin of course, if only Berlin have the restaurants, the price, and most importantly, the scent and aroma of the original padang food which i was brought up about.

The indonesian restaurants in berlin were somewhat trying to fill a hole in the diversity of map of restaurant types in berlin. unfortunately it’s just that. quality, authenticity?? later. important is, it seems, to exist first. perhaps when more and more indo restaurants appear (preferably padangnese of course) - which is pretty unlikely recalling the width of the market (there are just not enough indonesians to justify for it) - the competition raises up the platform from just mere existence to quality and authenticity of the original copied dish.

Price is quite a hard subject to pin down. some say it’s appropriate. but i say not. ive seen a restaurant charging like 15 euro for a plate of kangkung! i mean, okay if its exotic, but that doesn’t mean putting on price tags like a mad bull.

The second factor of what’s missing in the city is the people. not just people, but "The" people, or specifically "your" people. so, which people am i talking about? it’s damn obvious: your family and friends! that’s the people. this is "the" people who you grew up with, whom most most probably you owe a great deal of your life to. these people, they cultivate you, they influence and support you. "these" people are your life.. now, the question is:how important is these people to stay in your life? unfortunately, the answer to that question is a subject to your subjectivity. as for me, they are the UTMOST important. "i can’T live without them", if i can’t say brief enough. to put it in a more philosophical way: if these people aren’t with me, then my chance to achieve what i consider most important in my life diminish greatly..

There are many criterias of human achievement. which one you pick or what composition you construct is entirely up to you and your subconscious level. some may refer to wealth as THE sole criterion. some may refer to power. some just plain, well, both. some other would refer to acknowledgement from others. and then there’s another part refer to love and respect. etc. for my self, i don’t know. it’s apparently a mixture of many things above. i’m not quite sure about the composition of the mixture but what i do know is what don’t come out as the main element.. Wealth no. Power not really. Acknowledgement? yeah close but not the most important one. Love and Respect?? yeah..i think that’s the one. but not enough, appropriate is the "love and respect" that sources from what i did that contribute to people’s lifes. to be loved and respected from deeds of helping people (though can’t i really be specific why or how) that’s my idea of human achievement. as an old saying of my religion says, in the end, what matters are Hablumminannas and Hablumminallah. That is the connection to mankind (the horizontal one) and the connection to God (the vertical one). Since the vertical one is a matter of personal, what’s left is the horizontal. Love the people around you, God said, and you have done ALL that matters.

Since berlin would not possibly be able to bring all of those things (at least not anytime soon), it is safe to say that i will be living in my home country for indefinitely. the experience of living in berlin taught me how to live properly in city that is built properly. and such an experience it was. in the end, berlin is a smashing city. there’s a difference though between admiring and wanting to live there. from the start i know it was just going to be a stepping stone to return back to indonesia as a better and more informed kind of person. and there i have it. i’m back and better. thank you berlin. you are going to be remembered for the rest of my life. your endless pulse have remained inside and influence me till a time unknown. salute to the Germans, may our cities (and our country) could similate the qualities and values you have been so long endorse. may the reader of this blog finds and be inspired on what, since my Berlin days, have made me feel always so buoyant wheneverytime i hear the word "Berlin". For our better life.. Cheers.

Today (6.6.06)

June 6th, 2006 by gotahouseyfeelinonit

I dont usually tells the story of what happens to me during one day, because i usually dont like to ‘report’, i’d rather ‘note’ an event. however today i felt like doing just that. not of particular reason really, beside of course the events, which were quite amusing and important to me. but its not like there arent as important or amusing an event on other days, but today…yeah i just felt like it.

Marco
marco is a good friend of mine back in hard rock fm days. speaking with marco seemed like speaking in a totally different planet, in which the whole population consisted of either gays or transexuals (aka banci), notwithstanding my lack of full understanding of marco’s real ‘orientation’. here is an excerpt of this morning’s short conversation, which started from around 8 pm yesterday.

after a long period of no contact, suddenly the chinese in javanese dressing (or is it the other way around ko?) sms-ed.

M: arabbbbb, kpn balk jakarta?

i was delighted to see the message from the f*cker. actually i was planning to send a message a few days ago, but he outpaced me.

A: marco! gw denger ktnya skr suka sombong ya. katanya suka sok sibuk dan pgnnya ditelpon duluan kl pergi ke acara2. kenapa si ko? lagi ‘dapet’ berkepanjangan ya? =p

M: ha? masa si? kt sapa? emang lagi rada ribet ngurus idol. kamu kpn balik sayang?
6 juni 06 07:27

ugh.. sayang!?!.. now, if there is any guy in the world who can call me that, then its got to be only one: marco. thanks for proofing that was you who send the message, co.
i was laughing with fear. he he he he..

A: alah idol lagi alesannya.. gw sidang tanggal 12 bsk, trus nunggu diploma abis itu balik deh. yah agustus deh. lagian nonton piala dunia dulu dong. =)

M: duh sok laki banget si alesannyaaaaa
6 juni 06 13:49

gw ketawa mampus. this guy is incredibly hilarious. i love you for what you are man.

A: hahahaha tailo. eh marco gw kasitau ya, gw ga dan ga bakal ‘meletek’ seperti yg lo idam2kan itu. dasar marco cina giling =D btw gw br denger lagunya glen yg baru (tega). doyan!

M: ih, melankolis pisan. laki mana yg tega amalo?
6 juni 06 14:00

after all those words, he still somehow thinks i’m someone else. btw marco was once a music director =) hehehe, werent you marco? well, he was my replacement for a while until the real official music director came about. so, he has some knowledge over songs. good memories, good taste, easy to teach, however annoying he might be at the time - god, sometimes, i want to shove his mouth with my the box of tissue in my office room or polish his shiny forehead with my armpit. but one of many thing that differentiates me and him is he memorizes song lyrics seriously, especially the ones relevant to his life at the particular time. kahitnalah, glennlah, or any cheesy corny pop tunes could become seriously memorable (and adorable) to him, because of the lyric..

A: tega ama gw?.. anjiing. eh ga mesti deh semua lagu diresepin. lagian lirik tuh belakangan bwt gw. ah udah ah, diskusi amalo ga sehat. tuh liat tuh gempa di yogya, kumpulin dong temen2 bancilo buat nolongin.

M: udah, tapi lagi pada sibuk nyalon..
6 juni 06 14:23

the last one blew myself up really..! huahahahahahaahahhaha marco marco, take care ol buddy.. and be straight will ye, or….at least make up your mind on it…!

and so thats what happened in the morning. in the afternoon…

Meaning of Music

in the afternoon, i went to my old favorite place in town. the old and intimidating, labyrinth-filled state library in unter den linden. it was raining when i came, in fact i almost change my mind on going at all, but the image of the nice reading chambers with all those bookshelves just made me happy and full of spirit. so off i went, with a weary umbrella on top of my head, and the hood from my jacket, and the hood from my sweater (yes, triple, not double, protection), through the underground train and through the friedrichstrasse shops and cafes to inside the library.
the library was formerly an old aristocratic building with high ceilings and huge staircases. it has two instantly recognizable wings and multivarious labyrinth-esque positioning of rooms and chambers, albeit totally confusing to novices of the library. for today’s ‘new experiences’ menu, i decided to try the musiksaal - the music reading room, on the top of the left wing facing the unter den linden road. it was a medium-sized room compared to others (nature wissenschaft or sozial) and was a homy containers of manuscripts and lexicons of a staggering amount of music works. a huge first floor shelves is reserved for musical sheets - name any work of any important classical musician and its all there. the second floor shelves are appropriated to biographies, music theories, etc.
at first i decided to read a little bit of my own thesis work, as this was the primary reason of my coming here. however that didnt last long. draining out of subject and interest, other books i brought soon looked very attractive. for the next 1 hour i spent reading the other half pages of my Roger E Backhouse’s History of Economics. pretty soon afterward, i got tired and decided to take a stroll beside the charming shelves. the first floor was not interesting to me as i cant read music notes and not very interested in classicals, however roaming to the second floor turned out to be very exciting.
there, stucked between two thick books in the musiktheorie section, was a small A5 size book entitled Meaning of Music.
the book was written by a professor in the 1930’s. her name (i guess its her) is Carroll C Pratt. She is not only some professor, but a professor emeritus from Princeton’s college of psychology, just exactly the academic field which i thought should handle such topic. the topic was, as i mentioned, the Meaning of Music. its subtitle: A Study in Psychological Aesthetics.
to mention that the book is interesting would be underrating it as far as im concern. the book, perhaps the day, could be an important knot in my life for it answers a question i have long to answer. the questions of: why music creates such a tremendous effect over my mental stature? (i have already discuss this a number of times in the blog), why would i thought that music is a sort of language or a code that can only be deciphered with our soul? (which the book discusses humbly, clearly, and amusingly).
this academic, quasi-scientific, philosophizing book that took classical music as its object provided for me assuring (and comforting) facts: first, it took music to its rightful position regarding other forms of art just how i thought it should be; second, that the phenomena i felt is not unique, others felt it too; third, the width of the scope of discussion is as large as what i already had in mind, which could be in no other way must transcend into comparison with other forms of art, a discussion about human perception, psychology study, and the ‘what’ and the ‘how’ of art itself, etc etc.
in short i love the book. it is by no exception a praise to music as the the form of art itself. and i can’t believe somebody have tried to answer my questions 75 years ago.
ive got so many brilliant quotes from it. unforgetable and overall made the book even more tempting to finish than all other books i have bought. here are some:

"the thesis of this book is that tonal form stands from nothing beyond itself. it does not suggest mood and feeling. it is ‘mood and feeling’. … the qualities of auditory perception are not iconic signs, nor do they by themselves represent or imitate or copy anything…. tonal form represents only itself. the form and content of music are one."

"…music speaks of emotion only by way of tonal patterns which at the level of form are indistinguishable from the patterns of bodily reverberations. music sounds the way emotions feel…"

"..music has none of the vulgar concomitants and common motives of real emotion. the tertiary qualities of music exist in a realm of ideal and abstract sound. they are pure creation. no other human endeavor or accomplishment is in any way comparable. everything else in one way or another reflects or portray ‘things’. Music is no ‘thing’ at all, yet by a simple paradox it comes out of the most inaccessible and inarticulate regions of human experience and reveals in tonal splendor those things which are closest to the heart of man."

"words, pictures, images, statues, objects, landscapes, portraits, still life: these are all mere things, the outer manifestation of an inner ‘Ding an sich’. Music on the other hand, said Schopenhauer, is the ‘Ding an sich’ itself. ‘Music is by no means like the other arts, the copy of Ideas, but the copy of the Will itself, whose objectively the Ideas are. This is why the effect of music is so much more powerful and penetrating than that of the other arts, for they speak only of shadows, but music speaks of the thing itself." Schopenhauer has not been alone in his half-mystic belief that the master knot of human fate can be unraveled in only one way. Solvitur Audiendo."
—’solvitur audiendo’ is a latin phrase meaning: it is solved by listening.. Schopenhauer himself is Arthur Schopenhauer, a 18th century german philosopher who studies metaphysics of music and admired among other, by Wagner and Nietzsche.

now, how bout it? interesting? for me, extremely. quite something for an afternoon break indeed.

The Postcard

after a regular visit to lebensmittel shops, i went back home at around 8 o’clock, only to find that the content of my letterbox was not only pamphlets and pizza take away advertisements as usual. a little postcard was in it. i was happy even before i knew who send it. the girls who came a few weeks ago to berlin send it..that cutesy little program directors..

(btw peppy and sekar are two program directors, sort of managers of "whatever going broadcast" - and that includes music, which makes them formally above me (was). peppy worked for OZ FM Bali and Sekar for Hard Rock FM Jakarta. In the perspective of media professionals, their jobs, and consequently they, are.. pretty important.

before diving into what would be a very delightful letter, let me describe you a little bit about the postcard. the front page was a picture none other than….HALILINTAR DUFAN dong. with a big red inscription of the word INDONESIA at the bottom, and a little subtitle:

Dunia Fantasi, Jakarta - "Fantasy World" in the Ancol Amusement Park is (read very slowly) Jakarta’s.. answer.. to.. Disneyland..
if this is jakarta’s answer, well she sure got a zero point for that…
god.. *shakes my head*
at the back, there were three stamps with a text: Hemat Energi, which apparently cost 2500 perak each. in reminiscent of one’s ol’ hometowrn, one could only smile..
now here is the excerpt, to give you a glimpse of how these girls really are..

Dear Aldy
(they spelled this one wrong - its Aldi, never Aldy)

hey kyamu..cowok bertampang anak SMP =P. Kita berdua mau ngucapin makasih buat semua2nya selama kita di Berlin. Makasih udah mau direpotin ama 2 pere yg banyak maunya! Tapi Berlin will never be so perfect without you! Thank u so much!!!
Good luck sidangnya! you gonna rock! Don’t worry!
Hayoo cepat pulang, biar kita ke Dufan rame..rame.. yuppie
Love you

(Signed) Peppy and Sekar

(i figured this was Peppy’s handwriting).

hmmmhh anak2 ini…=) thanks to you too guys..wow wait a minute? dufan? after all the cool places in berlin i took you to?!…=D

bet you never realized, that being a guide, when somebody came and you have to take the job, youre actually given the chance to go out of your everyday life for a little bit and hav fun. for me that’s not merely gratifying but indeed a vacation in itself.., so thanks in return guys =>

and so thats how the day ended. i ate my KFC for dinner. write this and go to sleep.

oh right, theres one more little thing. among all the numerous functional objects lying on my desk from day to day on a regular basis, there appear today to be a small addition to these already hectic looking place..: a 5 cm tall brust sculpture of W.A. Mozart, standing proudly among the drinking glass, the mouse, the clock, the tv remote, the printer, the books, the pencil, and others (a fitting composition don’t you think? =p) it apparently came from the role model’s hometown himself, which is Austria. it’s hard, white-colored (miming the granite of real statues), detailed, and well, short. if not for the size, i would really feel i’m in possession of a valuable museum object. peculiarly standing there with no specific functional significance regarding my work at all, i thought to myself what might this particular statue served for purpose? i contemplate  and contemplate then i think…it could be only one. To remind myself of who gave it to me. =) so, thanks alot bi..

ps: thesis defense is 5 days away, i couldnt be more anxious.

Quiet Nights of Quiet Stars

May 30th, 2006 by gotahouseyfeelinonit

Rio, 2026

pagi ini seseorang datang ke rumah gw. gw denger suara belnya berdenting ketika gw masih berada di kamar mandi. gw berteriak memanggilnya, berharap supaya dia menunggu gw, tapi tampaknya dia ga mendengar gw. gw buru2 membasuh kepala gw yg penuh sabun shampoo, agak sebal juga karena waktu2 inilah biasanya yg paling gw nikmati dari cuci kepala. uap menghembus keluar dari kamar mandi ketika pintunya gw buka. tetes2 air jatuh kemana2, dari bagian badan gw yg belom sempurna gw seka. tertatih2 gw jalan menuju pintu. mengintip lewat lubangnya..tidak ada siapa2. penasaran dan takut pengamatan gw ga sempurna, gw memutuskan untuk membuka pintu.
ga ada siapa2 tuh. kepala gw mendongak keluar, lirik kanan kiri, berusaha untuk make sense what had happened. perasaan gw baru aja 2-3 menit sejak ‘orang’ itu ngebel. sial..
wups apa ni? mata gw terantuk sama sesuatu yg disandarkan di dinding sebelah kiri pintu. benda itu tipis. ukurannya kira2 40 kali 40 cm. bungkus plastik kuningnya bertuliskan sesuatu yg cukup familiar: COVER MUSIC. hmm, gw tau itu, pikir gw. itu kan toko piringan hitam di zoologischer garten berlin yg sering gw datengin bertaun2 yg lalu. wah, alamatnya juga tepat, Kurfurstendamm (KuDamm) 31.. iya ga salah lagi, orang ini..siapapun itu..telah memilih, dari semua bungkus plastik toko yg ada di dunia ini, satu bungkus plastik yg gw sangat familiar banget. ada2 aja pikir gw..
benda yg dibungkus plastik kuning itu gw angkat. ringan. ukurannya bujursangkar. sangat tipis. hmmm. cuma ada 2 benda di dunia yg gw tau yg bs punya dimensi kya gini. one of them is not important, but the other..
dengan gerakan singkat gw rogoh isi plastik itu.
ahaaaaaa!! it is what i think it is!
sebuah piringan hitam…+++
untung bukan kalender tahunan pikir gw..
tanpa banyak tunggu gw baca tulisan di cover piringan hitam itu. tapi sebelum sempet gw selesai membaliknya, sebuah perasaan yg familiar muncul mengguyur tubuh gw. perasaan yang udah lama sekali ga gw rasakan. perasaan yg bener2 enak dan one-of-a-kind buat gw: perasaan waktu ngebuka a freshly pressed, mint record. hmmm.. gw cuma bs tersenyum..
dari belakang, cover plat ini didominasi sama warna hitam. ga menor, ga rame. ada tulisan2 kecil berwarna putih diatasnya, biasanya cuma judul track dan identitas label. ga sabar, gw membalik plat itu. di depannya ada foto seorang musisi yg amat sangat familiar untuk gw.. dada gw berdegup kencang.. sekian mili detik lewat sebelum gw sampai ke judulnya yg cuma ditulis dengan desain yg simple tapi cantik. huruf2 bergaya perancis dengan lengkung2 yg seolah bertarian berjajar menampilkan katanya: Corcovado (Quiet Nights of Quiet Stars).
sepercik senyum terbit di pelipis bibir gw.
mata gw memicing, ga terasa senyum gw udah lebar.

sebuah German reissue dari album Antonio Carlos Jobim..

i cant believe it…
pikiran pertama gw adalah siapa yg ngirim ini buat gw. how…how kind of her..hehe setidaknya itulah yg ada dibayangan gw, seorang wanita. apalagi yg diinginkan pria seperti gw yg baru aja gagal lagi dalam kehidupan cintanya. mungkinkah cewe itu yg baru aja gw temuin di pesawat.. ato mungkin tetangga manis yg tadi pagi menyapa gw dari balik terasnya.. hm ga mungkin ga mungkin.. orang ada plastik kuningnya seperti ini.. she, (or is it a he??), must somehow connected to me through berlin, atau bahkan mungkin datang dari sana. siapa ya? siapa ya? aduh dada gw berdegup kencang penasaran, memikirkan kemungkinan2 yg ada..
tanpa gw sadari, pagi itu gw udah terduduk di kursi sebelah cermin besar di door hallway. bayangan2 berlin melintas di kepala gw, melintas secepat kereta2 ICE jerman yg membelah2 jerman ibarat pisau kue yang memotong kue ulang taun gw baru lewat bulan yg lalu.
20 tahun yg lalu.. berlin.. gw ga kuasa menahan senyum. i love those days. karakter2 yg ada dalam hidup gw kala itu bermunculan lagi di kepala. nama2 lama, wajah2 lama berlompatan di benak gw. apa kabar ya dia? kalo dia? dia gimana? hohohoho dia gimana tuh kabarnya? kocak, haru, suka, semuanya campur aduk lagi. ingin semuanya gw telpon satu2 dan gw kirim tiket pesawat untuk dateng kesini. pantai ipanema lagi bagus2nya bulan ini. kemaren baru aja ada festival yg lewat di depan rumah. alangkah serunya kalo mereka semua disini. menari mengikuti festival samba, mengobrol dialuni jobim dan joao. wow dreamy thoughts!!
gw inget pernah mengobrol dengan seorang teman pd sebuah malam, gw bilang ama dia salah satu impian gw adalah gw bs ngumpulin semua temen gw di satu tempat, mengenalkan mereka satu sama lain, lantas ngobrol2 dan bersenang2 bersama mereka tanpa mikiran apapun, baik kerjaan kek, atau waktu kek, dll, just having fun.. gw bilang lagi bahwa gw udah ketemu caranya, yaitu adalah gw harus jadi sangat amat luar biasa kaya jadi gw bs kirimin mereka tiket satu2 - masing2 buat mereka dan keluarganya juga - dan gw juga mesti cukup berpengaruh jadi gw bs nelponin bos2 mereka satu2 untuk minta supaya mereka dikasih cuti seminggu aja. pasti mereka semua senang pikir gw..
dari khayalan yg tampaknya indah banget seperti itu, tiba2 temen gw yg lagi gw ajak ngomong ini nyeletuk: "yah jelaslah mereka pasti senang either ngumpul ato gak sama lo, orang mereka bs dapet cuti dan tiket gratis!"
sial gw bilang, hmm… hilang deh maksud gw supaya kita bs ngumpul dan bersenang2 bareng..
20 tahun yang lalu.. tapi diskusi itu masih aja terngiang jelas di kepala gw. dan yang lebih parah, diam2 mimpi itu masih gw simpan didalam hati, berharap siapa tau suatu kala nanti keadaannya memungkinkan untuk gw wujudkan.

yah.. siapapun itu yg ngirim dan meletakkan rekaman ini di depan pintu gw, yang pasti gw berterima kasih sekali - dan heran sekali kok bs2nya dia pilih jobim buat gw. adalah album jobim reissued-original yang sekarang sedang gw pegang di tangan gw. sebuah album dari seseorang yang amat sangat gw hormati dan kagumi. he’s almost like part of my heart, tepatnya seperti corong dari hati gw. jobim bs ngungkapin apa yg ada d hati gw, exactly.. dia punya kesensitifan, ke-melankolian, kesederhanaan yg gw kira ga akan gw temuin lagi di dunia selain di diri gw. seolah2 he’s there to proove that i am not alone. that i am not alone for being myself. there is somebody who understands me. udah lama gw selalu mikir setiap kl gw dgr bossanya dia, his notes seems to speak to me. those little notes, those that are only fewer than most other music, those which are only quieter than most other music, prooved to be the ones who talk to me most. to me, its more than music perhaps.. its a code. a secret code. it tries to tell me something. sometimes i think it tries to tell me how powerful and great our creator is. thank you jobim. thank you God..for giving me the opportunity to enjoy and recognize your ’signal’.

sore ini, gw masih blom bs menemukan siapa yg mengirimkan album itu untuk gw. sementara siang sudah hampir berganti jadi malam, debur ombak tampak melunak, menghambur sayup2 di kejauhan bersama laut yg semakin gelap. patio gw yg menghadap ke pantai menggoda gw sebagai peristirahatan terakhir untuk menutup siang hari ini. sejak berhenti dari pekerjaan gw seminggu yang lalu, cuma ini aja yg sering gw lakukan di sore hari: duduk di patio dan menikmati senja di pantai kesenangan gw ini. sudah berapa lama gw bayangkan bs punya rumah pantai, akhirnya setelah sebuah tawaran pekerjaan yang sukses, impian gw itu tercapai. hmm kl gw pikir2, memang ga bs gw pungkiri bahwa selama hidup gw, banyak juga impian2 gw yg udah tercapai. berawal dari kerja di majalah sekitar 22 tahun yg lalu, lantas menjadi seorang penulis, pendiri label, radio, hingga akhirnya yg terakhir ini menjadi managing director di sebuah label jazz brazil. ga terasa berpuluh2 tahun sudah berlalu. waktu memang berjalan dengan cepat..
walau begitu, bukan cuma itu tolak ukur kesuksesan buat gw. punya temen2 yg banyak itu adalah tolak ukur kesuksesan gw juga, meskipun kadang2 ini juga bs merepotkan. tapi di dunia dimana seluruh hidup kita tergantung kepada memori kita, apalagi yg lebih penting daripada memori yg indah yg dibangun ketika kita bersama teman2 dan keluarga kita.
dari semua target hidup gw, cuma satu yg gw blom bs capai, at least dengan sempurna. ini berhubungan sama teman, tepatnya teman hidup..
sejak mantan istri gw meninggalkan gw beberapa bulan yg lalu, harapan gw untuk marriage yg utuh sampai akhir hayat pupus. pahitnya masih terasa sampai sekarang. lantas kejadian d kantor kemaren yg membuat gw resign juga membuat gw semakin patah semangat untuk menemukan the real love of my life.
ada seseorang disitu, di kantor lama gw. dia wanita yg keras dan kokoh dan perangainya bertolak belakang total denganku. selera musik kita juga cukup berbeda - walaupun kita bekerja di label yg sama. untung dia tidak dalam bidang yg sama dengan gw - bidangnya marketing, tepatnya dia international marketing manager. kita pernah berdebat soal jobim yg menurutnya terlalu over-exposed di brazil dan i quote "nothing more than a sad old storyteller". that really put me to rage. bukan hanya karena - dalam hati - jobim is my great hero, tapi karena the ’storyteller’ happens to be brazil’s cultural contribution to the world, and has proved from time to time, from the 60s inception till now, to be a very good music commodity to various market segments, either young or old. gw ga percaya dia bicara seperti itu, sebagai seorang eksekutif marketing dari label yg salah satu major produknya adalah karya2 jobim sendiri. tapi yg menyesakkan adalah because i had fallen in love with her along the way.. sejak gw pindah kesini beberapa tahun yg lalu, wanita ini ga pernah berhenti mesmerizes gw. sikapnya yg tegas, independen, dan know-exactly-what-she-wants menngenalkan gw sama tipe cewe yg blom pernah gw hadapin sebelomnya. tipe cewe yg enerjik, atraktif, dan so alive, tapi pada saat yg sama.. misterius. dia bener2 membuat gw bertekuk lutut. heran setelah berkali2 kesempatan dan bertahun2 memahami wanita, tetap ada wanita yg bs membuat gw seperti ini.
pertengkaran antara kita sepertinya memuncak setelah debat hebat soal jobim itu. setiap kali manager’s meeting misalnya, perbedaan kita sepertinya semakin meruncing.  tapi di saat yg sama, hati gw semakin jauh terbawa oleh dirinya. gw ga pernah bener2 bilang apa yg gw rasakan langsung karena setiap kali pembicaraan kita mengarah personal, sepertinya dia, dengan caranya yg unik, cerdik dan dingin, berhasil mengarahkan gw kembali ke hal2 kantor yg formal dan impersonal lagi. menang gw ga berani menebak, tetapi dari berkali2 usaha gw untuk membawa dia ke pembicaraan personal, mestinya dia dapat mengetahui bahwa ada sekelumit perasaan yg gw simpan buat dia. pada saat yg sama dengan event2 ini, sebuah tawaran dari label baru di brazil datang kepada gw melalui seorang head hunter. label ini akan buka beberapa bulan mendatang. gaji yg mereka tawarkan beserta konsep label ini memang sudah menarik buat gw dari awal, tapi sebenarnya ketegangan dari kantorlah yg membuat gw semakin tertarik lagi untuk meninggalkan label lama tersebut. pada hari terakhir gw di kantor itu, gw meninggalkan sepucuk kartu di meja dia. didalamnya gw tulis dengan tangan sepotong pesan pendek: "its more than nice to know you. despite all our differences, you left me with a mountain of nice impression. goodbye and live well. yours truly. randy."

kilau2 laut keemasan tersisa tinggal sedikit saja di ujung cakrawala. awan2 oranye tampak seperti kapas2 di kanvas berwarna biru tua. laut, rio, dan brazil berada pada saat yg indah2nya pada saat seperti ini. gramofon tua peninggalan ibu gw mengalun sayup2 memainkan Corcovado.
lantunnya:

quiet nights of quite stars
quite chords from my guitar
floating on the silence that surrounds us
quite thoughts and quite dreams
quite walks by quite streams
and the window that looks out on the mountains and the sea
oh how lovely
this is where i wanna be
here with u so close to me
until the final flicker of life’s ember
i, who was lost and lonely
believeing life was only
a bitter tragic joke, have found with you
the meaning of existence o my love…

sembari gw mendengarkan lagu ini, gw mulai berpikir…
nina - wanita yg merebut hati gw di kantor itu - tidak lain dari international marketing manager label. tugas naturalnya adalah mengkoordinasi tugas marketing di seluruh cabang dan afiliasi label - termasuk asia, amerika, dan tentunya eropa. bukan tidak mungkin - bahkan sudah pasti - bahwa dia juga mengurus marketing untuk cabang label di jerman yg kantornya berlokasi di berlin..
bahkan, jika gw ingat2 lagi, minggu lalu, di hari gw resign dari label, dan di hari dimana dia tidak sedang berada di mejanya sehingga gw dpt bebas meninggalkan kartu untuknya, ketidakhadiran dia adalah karena dia harus leave for business trip untuk strategic meeting dengan divisi marketing eropa yg bertempat di berlin..

semuanya masuk akal sekarang.

COVER MUSIC di KuDamm, album Jobim, perdebatan kita..

sepercik senyum terbit di pelipis bibir gw..
gw menatap malam yg sudah datang di pelupuk mata.
sepenggal kata muncul dalam hati..
halo rio, tomorrow is gonna be a very lovely day..

inspired by Jobim and Corcovado the mountain

Crazy For You

May 21st, 2006 by gotahouseyfeelinonit

Crazy For You (Jon Lind, John Bettis) 1985

swaying room as the music starts
strangers makin’ the most of the dark
two by two their bodies become one
i see you through the smokey air
can you feel the weight of my stare
youre so close but still a world away
what im dying to say
is that im crazy for you
touch me once and you know its true
i never wanted anyone like this
its all brand new
youll feel it in my kiiss
im crazy for you

trying hard to control my heart
i walk over to where you are
eye to eye we need no word at all
slowly now we begin to move
every breath im deeper into you
soon we two are standing still in time

if you read my mind
you see im crazy for you
touch me once and you know its true
i never wanted anyone like this
its all brand new
youll feel it in my kiss
youll feel it in my kiss
because im crazy for you
touch me once and you know its true
i never wanted anyone like this
its all brand new
you feel it in my kiss
im crazy for you
crazy for you
crazy for you
crazy for you

pa pa pa pa

its all brand new
im crazy for you
and you know its true
im crazy crazy for you
its all brand new
im crazy for you
and you know its true
im crazy for you
crazy for you baby…

in an apartment
A: Jenny! you gotta come here. i met somebody last night..
J: what? Annn! hello… this is still working hour in case you haven’t notice
A: Yeah i know but you wouldnt believe what happened to me last night. its just..its just wonderful jen..
J: okay, okay, calm yourself down, tell you what, i get over as soon as i finish this stupid deadline i have to catch for tomorrow.
A: okay, but no more excuses about meeting or anything like last time alright. cause ill really gonna blow myself up if i didnt tell this to anyone
J: okay, see u soon alright darling..byeee

at 4 pm
the bell rings. from inside, the stereo plays crazy for you from madonna very loud.
J: (from outside) ann!! its jenny, are you there?
another ring
sound of foot steps on the floor approaching the door, sound of door unlocking quickly. a woman with a little black dress show up.
A: jenny darling! im sorry, didnt hear you, come on in jenny, i can’t wait to tell you what happened.
J: okay, but first could you please turn that music down first please. i think im going deaf soon.
A: (blushed with embarrasment) oh im sorry.. i didnt realize it was that loud.
Jenny sat down, but before it, looks at the untidy apartment - stilletos on the floor, scarf, pearl beads spread from all the way from the door to the couch - then shakes her head with disbelief..
J: didnt you clean up your apartment once in a while?
A: (going back from inside the room after turning the volume of stereo down) oh that was from last night, im sorry, i must have lostth my head (grinning without any feel of sorry)
J: (noticing the little black dress) jenny…! are you still in your last night’s clothes?
A: ha ha ha yes, i didnt want to take it off… his smell is still all over it…(smiling and dreamy eyes)
J: (smiling understandingly) i see, so its about HIM huh.. ok now sit down and tell me what happened. im dying of curiosity..
A: hmmm jen, it was so wonderfull..(tone lowers, dream mode enters)
you remember that i used to go to that bar du paris over the kantianstrasse right.. well, yesterday was special, my publisher wanted the script on sunday, my head is just so tired and sick of anymore writing. so i decided to go to the bar. perhaps trying to knock myself out unconscious with few shots of vodka to ease the dizziness. and then there he was jen, there he was.. the mysterious guy i told you i had met in u bahn a week ago. you remember him??
J: (putting a deep thinking face) hmm,.. is it the one with the funny shirt written ‘good girls to to heaven, bad girls go to berlin’??
A: no..! that one was two weeks ago. this is last week. you remember..the one with the crazy eyes who stared at me all the way from amrumer strasse to zoo garten..
J: ahaaa (smiling satisfactorily) yeah yeah, i remember him, if there were more time, you almost wanna speak to him to shut it off right..?
A: yesss! (change tone) but you know inside i was trembling right. Goddd, hes so gorgeus,…(quiets down) and that eyes…. it tells you everything..
J: okay, now continue the story (nods her head with questioning eyes), what is up with that guy…?
A: jennyyyy, (feeling excited) he’s There! (crunching her fist with spirit) i said to myself, oh my god.
i entered the room and he’s there. this whole bar was swaying with couples, dancing cheek to cheek so close as if their bodies had become one. i can see him through the smokey air, sitting calmly at the corner. i could escape his presence by the people standing in between but i just couldnt escape his eyes. its so penetrating. i tried and tried not to look, but i cant help it. and each time i looked, our eyes met! finally im tired of hiding. i took my seat, ordered up a campari, then without any more remorse, i looked at him.. i looked at him deep.
at first he didnt notice me, but then he began to notice, his face turn ed slightly brighter. theres a slight smile, as if saying are you on to me now?? i answered well, Can’t you feel the weight of my stare?
that went on for about 20 minutes. during it, once in a while our attention distracted by barmaids, friends, but we eventually came back at looking each other. then, suddenly, i dont what was happening to me..theres a sudden raise of adrenaline flowing on my back, he was preparing to go.
perhaps there was a cupid somewhere in the room shotting his arrow at me, perhaps it was a spritual trigger from god, or perhaps, it was that song from madonna that made me stand up, and walk to him slowly.
i dunno what happened to me, i just felt my sight started to move higher as my body moves up to standing position. i didnt even take a breath. i stepped forward, overlooking anything anyone standing between me and him… for me, there was only him in that room.
i cant remember how far i walk, gosh i cant even remember the size of the room. he seemed so close but still a world away…
my heart pumped harder and harder as we got closer and closer. part of my brain still scream: what are you doing Annie Edward Hamilton? are you craziiii? there was no answer inside. she knows im doing a big mistake, but yet there is this divine force that led me to this guy. my sight was finally locked on to his wide dark charming eyebrows. he still looked at me, but now only in few steps away.
i am trying incredibly hard to control my heart.
then our eyes met. no words. then.. i took his hand, gently, carefully as if im afraid of waking a sleeping lion. i step backward, pulling that warm, sturdy hand forward. then i turn back, stepping to the dancefloor where people are still romantically swaying their nights away. i can feel he moved up from his seat and followed me just like a little boy follows his mom. after i reach my desired position, i turn back at him, realizing what a crazy crazy thing i have done tonight. his body is now so close, standing still, awaiting my command.
i put his hand on my waist and take the other one to my other waist and i put mine on his shoulder. without any signal, we started to move along with the song. i pressed my body close to him, put my head on his chest. i can feel his heartbeat under his warm chest, calm and strong just like i imagined it to be. every breath i drowned deeper into him, hypnotized by him. time seemed to have stop..
now its officially intense.. we looked at each other like we never did before; not a look of disbelief or amazement of what happened, but a warm and accepting look of ‘let’s spend this beautiful night together’.
there was a connection there brought by the air and the music that replaces our need for speaking. you see im crazy for you, i said.. touch me once and youll know its true. you see, i never wanted anyone like this. its so brand new to me…you..are so brand new to me. kiss me, kiss me. youll feel it. youll feel it..
and you know what he did?…
he kissed me.. a soft gentle kiss on the lips that immediately send shivers all over my body. i was trembling. my knee weakens, my heart stopped. i wanted to fall to his arm. if not for his strong caress, then i would really did. his forming but gentle hand managed to hold me on conscious. i smiled..
(looks at jenny) jenny, are u still listening to me?
J: (her wandering mind interrupted) yes, yes, keep going (smiling half laughing) keep going..
A: (smiling widely) jenny, the next is you not gonna believe..
J: (suddenly serious) what?
A: (calmed down) he said quietly "its very nice to meet you, but i have to go, i mean i really have to go." i was lying my head down his chest when he said it, still enjoying our last silent moment as madonna started to fade out of the speaker, then i whispered "why?".
he pulled back slowly then he starred at me and said "in 2 hours time i have to fly to paris to meet my publisher and i havent packed at all. ill be back next week." feeling extremely unsatisfied i asked "are you living in paris?", he answered "no, i live here. but im working on a novel in paris and you look exactly just like one of the characters there." publisher? novel? character? i felt dizzy of surprises. He’s a writer, just like me! but before i can even introduce my job and my name, he said, still half staring at me and with incredible gentleness "hello, im Julian. and you are..?"
"Annie, Annie Hamilton…" i replied
"Well nice to meet you Annie" he smiled
then he took my hand up behind his neck, grasped them gently and pulled them slowly down his chest. i can feel there was something sweeped inside my hand, but i didnt dare to look. suddenly we’re holding hands facing each other like a little boy and girl, then he kissed me on the forehead. i closed my eyes, his smell was so good. when i opened my eyes up again, i can see his last look as he turned away to the exit door which was behind me. the look..it was beginning to fade away.. far far away until i could not finally look at it again. disappear amidst the crowd on the street. all i can see left was the empty door through which he went out. i regain full consciousness. notice what time is it, then find the closest barmaid to pay for the campari, then went off, back home, not even bother to finish the half-filled drink i left on my table. i felt excited, but also tired of all the intenseness of it all. i felt something in my hand, i opened them, and i see a card, a namecard, written with a big Garamond font on top of it: Julian Narrow, writer.. leaving that smell, look, and song haunt my mind for the rest of the night.. i can’t wait for next week..

inspired from and made under the influence of Crazy for You - Madonna